<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118</id><updated>2011-04-21T16:30:18.236-07:00</updated><title type='text'>Rosidi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-115330151811026809</id><published>2006-07-19T02:30:00.000-07:00</published><updated>2006-07-19T02:31:58.240-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(153, 0, 0); font-weight: bold;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Belajar dari &lt;i&gt;Muhibah &lt;/i&gt; Cheng Ho&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oleh Rosidi&lt;/span&gt; &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: right;"&gt;   &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; Hampir setahun yang lalu (1-7/8/2005), peringatan 600 tahun pelayaran Cheng Ho di Semarang diselenggarakan secara besar-besaran. Kegiatan bertaraf internasional itu dipusatkan di Kelenteng Tay Kak Say dan Kelenteng Sam Po Kong Gedung Batu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Bermacam kegiatan diselenggarakan. Seminar, barongsai, ada replika kapal cheng ho, dan berbagai macam perlombaan lain, yang tujuannya, tak lain, untuk memeriahkan peringatan 600 tahun pelayaran cheng ho tersebut. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Namun menurut saya, ada sesuatu yang kurang dalam perayaan tersebut. Yaitu mengenai pemahaman tentang cheng ho itu sendiri. Apa sebenarnya yang dilakukan cheng ho selama 28 tahun melakukan pelayaran? &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    &lt;b&gt;Dahsyat &lt;/b&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Barangkali, sampai sekarang, belum ada satu pun orang yang mampu menandingi kehebatan cheng ho dalam pelayaran. Cheng ho adalah legenda dunia pelaut. Hidupnya didedikasikan untuk berlayar dan mengarungi dalamnya lautan dan luasnya samudera. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    28 tahun lamanya ia melakukan pelayaran dan telah mengunjungi banyak Negara di Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Tengah, dan Afrika Timur selama kurun 1405 - 1433, dengan kapal besar yang masih sangat sederhana dan jauh sebelum mesin uap dan tenaga mesin ditemukan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Terlahir sebagai seorang muslim yang taat, yang kemudian dipercaya Kaisar Ming Ta’i-Teu untuk menjadi admiral utama pada 1368-1398 M. Melakukan palayaran sejak 1405-1433, menggunakan kapal besar dengan panjang 132 meter dan lebar 54 meter, memimpin 62 kapal besar, yang memuat armada laut tak kurang dari 27.800 orang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Selama pelayarannya itu, sosok yang juga dikenal dengan nama Sam Po Kong, Zeng He, Sam Po Thay Jien dan Sam Po Thay Ka ini, telah mengunjungi 15 Negeri di sebelah timur Malaya (Campa, Cannauh, Cambaja, Pulau Condore, Cape Padaran, Siam, Penang, Singapore, Strait of Lingga, Billiton, Carimata, Pulau Bintang, Jawa, Madura dan Timor), 3 Negeri di sekitar Malaka (Malaka, Aru Island, Pulau Sembilan), 7 Negeri di sekitar Sumatera (Palembang, Sumatera, Lambi, Nagor, Letai, Pulau Weg di Aceh dan Andaman Island), 6 Negeri di sekitar India (Bengala, Cochin, Quilon, Calcutta, Ceylon, Maldaire Island), 5 Negeri di sekitar Arabia (Jaffa, Aden, Bormurg, Mecca, Lasan) dan 3 Negeri di sekitar Afrika (Magedexa, Barava, Juba). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Dari nama-nama negeri dan pulau yang telah dikunjunginya, beberapa tempat kini simpang siur bahkan tidak dikenal keberadaannya, seperti Nagor, Letai, dan Lasan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Prestasi tersebut mengalahkan pelaut (Barat) yang baru melakukan pelayaran jauh sesudahnya. Yaitu Christhoper Colombus (1451 – 1506), Vasco da Gamma (1460 – 1524) dan Ferdinand Magelhan (1480 – 1521). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Prof. Kong Yuanzhi dari Universitas Peking dalam Dialog Budaya Indonesia – China yang diadakan Universitas Katholik (Unika) Soegijopranoto Semarang (15/8/2005) menjelaskan, selama 7 kali pelayaran yang memakan waktu 28 tahun, menjadikan zeng he (cheng ho) tak tertandingi oleh bahariawan- bahariawan Eropa pada masa itu. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    &lt;b&gt;Humanisme&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Sebuah tesis YB. Mangun Wijaya yang mengatakan, bahwa non sens berbicara sejarah, kalau hanya menjadi sweet memories, menjadikan kita terkagum-kagum dengan kejayaan masa lalu, tanpa bisa melakukan perubahan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Karena itu, membaca cheng ho sekarang, bukanlah sekadar melihat megahnya klenteng Sam Po Kong di Simongan Semarang. Membaca cheng ho adalah dengan melihat, apa yang bisa kita pelajari dari sang legenda pelayaran dunia tersebut? Sekadar tahu, mengagumi, atau sekadar memamerkan keberhasilan seseorang dari suku (ras) tertentu?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Kalau jawabannya “ya”, alangkah naifnya. Karena seyogyanya, itu bisa dijadikan refleksi bagi perikehidupan masyarakat sekarang. Misalnya dalam hal hidup berdampingan dengan sesama masyarakat, apalagi yang berlainan suku (ras) dan agama. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Berkaitan dengan hal itu, semangat muhibah cheng ho patut menjadi pelajaran. Selama 28 tahun melakukan pelayaran, meskipun ia adalah muslim yang taat, namun tidak menjadikannya seorang misionaris, memaksa masyarakat yang disinggahinya memeluk agama sebagaimana agamanya, apalagi menjadi penjajah yang menguras kekayaan Negara yang disinggahinya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Menurut catatan Prof. Kong Yuanzhi, pelayaran cheng ho itu membawa misi melaksanakan kebijakan kerukunan, persahabatan dan mendorong perniagaan antara Tiongkok dengan Negara-negara lain. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Dalam perayaan 600 tahun cheng ho yang telah berlalu, semangat seperti dikemukakan Prof Kong sangat kurang. Padahal semangat seperti itulah, yang akan memupuk rasa pluralisme diantara masyarakat. Sehingga ummat terutama dari kalangan grass root, harus memahaminya, agar tidak menjadi seorang yang fanatik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Namun kenyataan yang ada malah berbalikan. Seminar-seminar yang diadakan sangat eksklusif. Seminar yang diadakan di wisma perdamaian, misalnya, hanya diikuti oleh kalangan elit yang sebenarnya sudah paham wacana pluralisme.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Minimal, itu disebabkan oleh dua hal utama. Pertama, tempatnya yang sangat terbatas. Dan yang kedua, tiketnya yang mahal, sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Padahal momen tersebut, sebenarnya bisa dijadikan untuk mengawali terbentuknya sebuah komunitas antaragama, yang akan melakukan kampanye tentang pentingnya pluralisme dan semangat kerukunan dalam kehidupan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Untuk itu, ke depan-jika perayaan serupa diadakan-format perayaan seperti telah dilakukan hendaknya dikemas dengan lebih menarik dan berlaku bagi semua. .&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;    Dengan begitu, setiap orang dari status social apapun, dapat belajar dari kearifan dan sifat Cheng Ho. Belajar dari semangatnya untuk membangun kerukunan, persahabatan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. So, “Belajarlah pada muhibah laksamana cheng ho”. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-115330151811026809?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/115330151811026809/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=115330151811026809' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/115330151811026809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/115330151811026809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/07/belajar-dari-muhibah-cheng-ho-oleh.html' title=''/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-115330141050256448</id><published>2006-07-19T02:29:00.000-07:00</published><updated>2006-07-19T02:30:10.946-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-115330141050256448?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/115330141050256448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=115330141050256448' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/115330141050256448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/115330141050256448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/07/blog-post.html' title=''/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-115131365392563643</id><published>2006-06-26T02:17:00.000-07:00</published><updated>2006-06-26T02:20:53.996-07:00</updated><title type='text'>Simbiosis Mutualisme Penjahat Intelektual</title><content type='html'>&lt;h2 style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Simbiosis Mutualisme Penjahat Intelektual &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;&lt;b&gt;MEMBUAT &lt;/b&gt;skripsi merupakan salah satu prasyarat yang harus dilalui oleh mahasiswa untuk mendapatkan gelar kesarjanaan strata satu (S 1). Selain sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar tersebut, skripsi juga bisa dijadikan alat untuk mengukur kadar (kualitas) intelektual mahasiswa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Pasalnya, prasyarat pembuatan skripsi itu menuntut mahasiswa tidak cukup sekadar pintar metodologi, tapi juga harus pandai menganalisa sebuah permasalahan. Permasalahan yang dimaksud tentunya sesuai dengan objek penelitian yang diangkat. Literatur-literatur yang berkaitan dengan objek penelitian juga harus benar-benar dikuasai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Pendeknya, dalam proses pembuatan skripsi itu, minimal ada empat hal yang harus diperhatikan. Pertama, penguasaan metodologi. Kedua, tema atau objek penelitian. Ketiga, tersedianya literatur. Keempat, yang sangat penting adalah kemampuan menganalisa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Kemampuan menganalisa yang baik, yang selanjutnya dijadikan sebagai bahan untuk memberi kritik dan saran bagi permasalahan-objek penelitian, akan memperlihatkan apakah mahasiswa bersangkutan cukup kapabel dan mumpuni dalam bidang keilmuan yang ditekuninya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Meskipun dalam praktik pembuatan skripsi itu mahasiswa didampingi oleh pembimbing, namun kemampuan mahasiswalah yang paling menentukan baik tidaknya skripsi yang dibuat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;&lt;b&gt;Penjahat Intelektual&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Sayang, pembuatan skripsi yang seharusnya bisa dijadikan tolok ukur intelektualitas mahasiswa, harus tercemari oleh praktik perjokian atau yang lebih dikenal dengan term (istilah) biro skripsi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Dengan imbalan antara Rp 800.000 sampai dengan Rp 2.000.000/skripsi, tergantung tingkat kesulitan pembuatannya, biro skripsi membantu tugas akademik mahasiswa yang sangat menetunkan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Dikatakan menentukan, karena berhasil tidaknya mahasiswa melalui jenjang pendidikan S 1, pada akhirnya ditentukan dari berhasil tidaknya mahasiswa membuat skripsi, yang akan dipertahankan di depan (sidang) penguji. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Artinya, apabila seorang mahasiswa berhasil lolos dengan skripsi hasil buatan sendiri, tentu pantas yang bersangkutan mendapat gelar sarjana, karena ia sudah dengan susah payah peras otak dan banting tulang melakukan penelitian ilmiah sebagai tugas akhirnya, sebelum gelar sarjana disandangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Pertanyaannya, pantaskah seorang mahasiswa menyandang gelar kebesaran "sarjana" jika skripsinya hasil buatan orang lain, dari para calo pembuatan skripsi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Tentu tidak, karena ia tidak melakukan proses akademik formal yang harus dilaluinya. Maka tidak berlebihan dan bahkan pantas jika yang bersangkutan, baik mahasiswa maupun 'pebisnisí perjokian atau biro jasa pembuatan skripsi, dikatakan sebagai penjahat intelektual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Sebab, berkat biro skripsi, seseorang yang tidak seharusnya menyandang gelar sarjana, dapat dengan gagah dan sombongnya membusungkan dada, karena berhasil menyandang gelar tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Sedangkan mahasiswa sendiri, telah menjadi seorang pecundang bagi dunia akademik. Ia telah menipu diri dan dunia akademik karena mendapatkan gelar kesarjanaan yang tidak seharusnya disandangnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Memang, dalam praktik perjokian atau biro skripsi ini, keduanya, baik mahasiswa maupun biro skripsi, sama-sama mendapatkan keuntungan. Biro skripsi diuntungkan karena bisa memperoleh penghasilan yang cukup lumayan, dengan waktu pembuatan -jika digarap dengan serius- tidak membutuhkan waktu lama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Sedangkan mahasiswa, apalagi yang di perguruan tinggi negeri (PTN) yang sudah terancam &lt;i&gt;drop out &lt;/i&gt;(DO) karena batas maksimal belajarnya (14 semester) hampir habis, misalnya, biro skripsi bisa membantu menyelamatkannya, sehingga gelar sarjana bisa diraih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Namun, meskipun ada simbiosis mutualisme, kerja sama saling menguntungkan antara kedua belah pihak, baik mahasiswa maupun para biro skripsi, hal itu tetap tidak bisa dibenarkan. Karena dengan itu, bangsa yang sudah bodoh ini semakin bodoh. Maka, sadarlah wahai para penjahat intelektual. Perbuatanmu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Suara Merdeka Kamis, 28 April 2005&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-115131365392563643?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/115131365392563643/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=115131365392563643' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/115131365392563643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/115131365392563643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/06/simbiosis-mutualisme-penjahat.html' title='Simbiosis Mutualisme Penjahat Intelektual'/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-114990779865773024</id><published>2006-06-09T19:45:00.000-07:00</published><updated>2006-06-26T02:11:24.393-07:00</updated><title type='text'>Manifestasi Tanggung Jawab Sosial</title><content type='html'>&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Manifestasi Tanggung Jawab Sosial&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oleh &lt;/span&gt;&lt;span style="background: rgb(255, 255, 102) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rosidi&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Suatu hari Soe Hok Gie marah kepada seorang perempuan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;yang mengendaradai mobil tidak mau berpartisipasi ketika &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;dia bersama kawan-kawannya melakukan aksi demonstrasi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;“Awas kamu kalau ikut menikmati jika BBM turun,” umpatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;(Soe Hok Gie, Catatan Harian Seorang Demonstran).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Itu terjadi pada 1966, ketika adik Soe Hok Djin (Arif Budiman) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;masih menjadi &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; Fakultas Sastra, Universitas Indonesia (UI). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Pada saat itu, dia menjadi salah satu ikon aktivis &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Indonesia yang tidak saja dihormati kawan-kawannya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;karena berani mengkritik pemerintah lewat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;tulisan-tulisannya di media massa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Lebih dari itu, Soe Hok Gie dihormati karena dia tidak &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;sekadar pandai beretorika dan berteoritisi, tapi juga aktif &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;sebagai singa lapangan yang selalu hadir di garda depan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;dalam setiap aksi demonstrasi mengkritik kebijakan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;pemerintahan waktu itu, seperti aksi demonstrasi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;menolak kenaikan harga BBM menjelang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;kelengseran Soekarno dari kursi kepemimpinan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Itu terjadi 39 tahun silam. Namun, aksi-aksi demonstrasi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; font-family: Georgia; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt; serupa akan terus berlangsung dan tidak akan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;berhenti, bahkan hingga langit runtuh. Yaitu, manakala &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;ada sebuah kebijakan pemerintah yang tidak berpihak &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;dan memberatkan rakyat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Saat-saat seperti itulah &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; selalu hadir. Ibarat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;seorang kakak yang akan datang menolong adiknya yang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;dijahili orang lain dan tidak mampu membalasnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Begitu pun &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt;. Dia akan selalu hadir manakala &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;pemerintah membuat kebijakan yang hanya akan menambah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;kesengsaraan rakyat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Seperti yang terjadi saat ini, ekonomi kerakyatan lemah dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;tidak stabil, mencari pekerjaan susah, sekolah (pendidikan) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;mahal, namun pemerintah seakan menutup mata dengan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;kenyataan tersebut. Harga BBM naik. Tentu saja kebijakan itu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;semakin mencekik leher rakyat miskin. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Bagaimanapun, kenaikan harga BBM yang diberlakukan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;per 1 Maret 2005 harus ditanggapi serius. Karena imbasnya, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;semua kebutuhan pokok masyarakat akan naik akibat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;mahalnya biaya operasional dan transportasi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Maraknya demonstrasi &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; berkaitan dengan kenaikan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;harga BBM sejak awal Maret ini sebenarnya adalah hal yang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;sangat biasa bagi &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; yang benar-benar &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; font-family: Georgia; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt; yang tahu akan tugas dan tanggung jawabnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Sebab, tanggung jawab seorang &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; itu tidak sekadar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;datang ke kampus untuk kuliah, KKN, KKL, PPL, buat skripsi, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;lalu lulus. Lebih dari itu, mereka memiliki tanggung &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;jawab sosial yang tidak bisa diabaikan begitu saja. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Tanggung jawab itu sesuai dengan gelarnya sebagai &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;agent of social change, agen perubahan sosial, yang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;akan terwujud dengan berperan serta dalam pemberdayaan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;masyarakat, memberi masukan dan kritikan terhadap &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;kebijakan pemerintah, bahkan melakukan aksi-aksi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;demonstrasi agar suaranya didengar para elite politik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;yang tidak mau tahu kondisi masyarakat saat membuat kebijakan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Kepekaan sosial itulah yang membedakan antara &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;yang benar-benar tahu akan tugas dan perannya sebagai &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;akademisi sekaligus bagian dari masyarakat dan &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;yang hanya kuliah, pacaran, kongko di mall sehingga &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;terjerumus dalam pola hidup hedonis yang hanya mementingkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;kesenangannya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Banyak cara memperjuangkan hak rakyat. Namun, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;hingga saat ini, perjuangan &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; lewat demonstrasi masih .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;menjadi senjata ampuh untuk mengkritisi kebijakan pemerintah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;yang tidak populis karena tiadanya kepentingan politis yang mendasari. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Perjuangan &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; itu murni reaksi keprihatinan terhadap &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;rakyat yang sengsara akibat kebijakan yang tanpa pertimbangan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;matang dan melibatkan masyarakat, elemen terbesar di negeri ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Suara &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; sebagai manifestasi suara rakyat berpeluang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;besar menjadi pertimbangan pemerintah dalam membuat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;kebijakan. Karena selain kemurnian niat dalam berjuang, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;suara &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; didukung analisis-analisis sebagai seorang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;akademisi dengan teori-teori ilmiah sehingga tidak ngawur &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;dalam bersikap. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Sampai kapankah &lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; harus berdemonstrasi? Laiknya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;hantu komunisme yang akan selalu membayangi, aksi demonstrasi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; font-family: Georgia; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt; pun tidak akan pernah padam selama &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;ketidakadilan, penindasan, dan kebijakan yang tidak populis masih ada.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Jawa Pos Maret 2005 &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-114990779865773024?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/114990779865773024/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=114990779865773024' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114990779865773024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114990779865773024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/06/manifestasi-tanggung-jawab-sosial.html' title='Manifestasi Tanggung Jawab Sosial'/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-114990732511199822</id><published>2006-06-09T19:39:00.000-07:00</published><updated>2006-06-09T19:42:05.280-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;MIMBAR DEMOKRASI &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: right;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selama ini pemilu hanya dijadikan alat legitimasi mencari kekuasaan. Tidak ada politisi yang benar-benar berniat memperjuangkan keadilan dan hak rakyat. Semuanya rakus jabatan dan "kehormatan". Omong kosong bicara tentang perubahan, keadilan, dan kesejahteraan. Semua itu hanya ada dalam diskusi dan seminar para intelektual, wacana yang tak pernah ada realisasinya. Benahi mental politisi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(&lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(255, 255, 102) none repeat scroll 0%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Rosidi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(153, 255, 153) none repeat scroll 0%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;IAIN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(255, 153, 153) none repeat scroll 0%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Walisongo&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(255, 102, 255) none repeat scroll 0%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Semarang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, Ketua Lembaga Pengembangan Sumber Daya Anak (LPSDA) Bina Anak Nusantara Kabupaten Kudus)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Kompas, 21 Februari 2004&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-114990732511199822?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/114990732511199822/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=114990732511199822' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114990732511199822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114990732511199822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/06/mimbar-demokrasi-selama-ini-pemilu.html' title=''/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-114990709803068422</id><published>2006-06-09T19:36:00.000-07:00</published><updated>2006-06-09T19:38:18.210-07:00</updated><title type='text'>Menentukan Jenis Persma</title><content type='html'>&lt;h2 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 22pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Menentukan Jenis Persma&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h4 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;; color: rgb(255, 153, 102);"&gt;Oleh: Rosidi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;  &lt;h4 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 15pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;Aktivis Presma "Amanat" IAIN Walisongo&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;PENGALAMAN &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;sejak bergelut dengan dunia pers mahasiswa (persma) selama empat tahun, saya belum menemukan identitas dan jati diri persma dalam arti sesungguhnya. Yang saya lihat selama ini justru adanya keangkuhan intelektual para aktivisnya yang ingin sok tahu segala macam persoalan dan keilmuan, meski tidak sesuai dengan garis keilmuan atau kompetensinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;Ini berbeda dengan persma di awal kelahirannya. Yaitu pada era kebangkitan nasional yang dimotori oleh pelajar dan mahasiswa. Saat itu, persma berfungsi sebagai alat penyadaran massa akan pentingnya sebuah kemerdekaan (nasionalisme) dan perlawanan terhadap penjajahan negara-negara kolonial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;Masuk dalam masa awal kelahiran dan perjuangan persma adalah Hindia Putra (1908), Jong Java (1914), Oesaha Pemoeda (1923) dan Soeara Indonesia Moeda (1938). Pers inilah yang secara gigih menyuarakan perjuangan kemerdekaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;Angkatan pertama persma ini sangat ëdiuntungkaní oleh situasi yang jelas. Di mana saat itu, kebutuhannya adalah alat propaganda melawan imperialisme kolonial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;Pendek kata, ada semacam &lt;i&gt;common enemy &lt;/i&gt;yang harus dilawan bersama. Pada generasi selanjutnya, pascakemerdekaan, aktivitas dan orientasi gerakan persma tidak jelas dan jalan di tempat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;Jenis Persma&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;Melihat kenyataan di atas, sudah selayaknya jika saat ini ada reformulasi dan reorientasi gerakan persma. Apa dan bagaimana persma harus ditentukan. Persma mau dibawa ke mana. Dengan begitu, persma tidak akan sekadar terdengar gaungnya ketika ada momentum saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;Harus dipahami juga, bahwa di alam reformasi ini, kita tidak bisa lantas memaknai persma sebagai pers alternatif seperti dikatakan Ana Nadya Abror (1995). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;Pers harus berani memberitakan realitas secara objektif dan blak-blakan tanpa tedeng aling-aling melalui investigasi dan analisis-analisis yang tajam atas fakta di lapangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;Kebutuhan persma sekarang ini tidak sekadar sebagai bagian dari gerakan dan perjuangan mahasiswa. Persma perlu kaderisasi dan instutusi yang menaunginya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;Masalah pengkaderan ini adalah masalah serius yang dihadapi setiap organisasi persma. Kader inilah nantinya yang akan meneruskan organisasi persma di perguruan tinggi agar tidak terjadi kejumudan (stagnasi), apalagi mati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;Selain itu, yang harus menjadi catatan adalah kompetensi. Kompetensi keilmuan (jurusan) dari sebuah perguruan tinggi harus menjadi pijakan untuk menentukan jenis persma yang ada. Karena persma sekarang tak lebih sebagai ajang pendewasaan diri dan mengasah keilmuan dalam bidang kompetensinya masing-masing. (29&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 216pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;        Suara Merdeka, Kamis, 07 April 2005&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: right;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;; display: none;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Medium&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-114990709803068422?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/114990709803068422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=114990709803068422' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114990709803068422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114990709803068422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/06/menentukan-jenis-persma.html' title='Menentukan Jenis Persma'/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-114990680783602956</id><published>2006-06-09T19:29:00.000-07:00</published><updated>2006-06-09T19:33:32.563-07:00</updated><title type='text'>Fundamentalisme Bukan Terorisme</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;" class="MsoTitle"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Fundamentalisme Bukan Terorisme&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Oleh &lt;span style="background: rgb(255, 255, 102) none repeat scroll 0%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Rosidi&lt;/span&gt; *&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Fundamentalisme merupakan gejala tiap agama dan kepercayaan yang merepresentasikan pemberontakan terhadap modernitas.&lt;br /&gt;(Karen Armstrong)&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;br /&gt;Berbicara masalah ide(ologi) fundamentalisme saat ini tidak akan bisa fair dan objektif. Sebab, wacana itu berkembang lagi ketika terjadi berbagai kerusuhan, pembunuhan, bahkan peledakan bom yang dilakukan "oknum" kelompok Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangkaian peledakan yang dilakukan anggota yang lebih akrab disebut teroris itu, mulai kamikaze di World Trade Center (WTC) AS, peledakan bom Bali, bom JW Marriott, hingga serangkaian peledakan lain yang kebetulan dilakukan orang muslim, akan memunculkan pandangan miring bahwa fundamentalisme, ideologi yang gandrung kekerasan, kekejaman, dan kebiadaban, tersebut identik dengan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, tidak demikian keadaannya. Islam adalah agama sebagaimana agama lain yang suka kedamaian dan anti kekerasan. Sebagaimana Buddha mengajarkan kesederhanaan, Kristen mengajarkan cinta kasih, dan Konfusianisme yang mengajarkan kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari namanya saja, salah satu agama samawi tersebut menahbiskan diri sebagai agama yang suka kedamaian. Sebab, Islam berarti "keselamatan", "kedamaian", atau "penyerahan diri secara total kepada Tuhan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu tertuang dalam firman Allah, Inna al-din ’ind Allah al-Islam , (Qs Ali Imran 3:19). Islam di sini diterjemahkan dengan "perdamaian". Sehingga, ayat tersebut berarti, "Sesungguhnya agama yang diridai di sisi Allah adalah agama perdamaian".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat lain, Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ’alamin (Qs Al-Anbiya 21:108). "Dan, tidaklah Aku utus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat (kasih sayang) bagi segenap alam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, seorang muslim adalah siapa saja di bumi ini yang menganut agama perdamaian bagi seluruh umat manusia, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;William Montgomery Watt dalam Fundamentalisme Islam dan Modernitas (1997: 3-4) menyatakan, fundamentalisme merupakan istilah Inggris kuno -kalangan Protestan yang secara khusus diterapkan kepada orang-orang yang berpandangan bahwa Al-Kitab harus diterima dan ditafsirkan secara harfiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, fundamentalis Islam dalam pandangan Watt adalah kelompok muslimin yang sepenuhnya menerima pandangan dunia tradisional serta berkehendak mempertahankannya secara utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamus besar Larous (1984 M) menulis, fundamentalisme adalah "sikap stagnan dan membeku yang menolak seluruh pertumbuhan dan seluruh perkembangan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari definisi Watt dan keterangan dalam kamus besar Larous tersebut sudah jelas bahwa pandangan fundamentalisme (salah satu) ideology dalam tradisi Islam yang suka kekerasan dan teror adalah sangat salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saat ini ada pencitraan bahwa fundamentalisme identik dengan kekerasan oleh kelompok Islam (militan), itu sesuatu yang dibesar-besarkan oleh media berdasar setting kapitalisme global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat salah juga seandainya fundamentalisme tersebut diidentikkan dengan kekerasan serta serentetan teror yang dilakukan Islam an sich. Sebab, semua agama juga sangat berpotensi melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan untuk membela Islam. Tetapi, sebagaimana dikemukakan penulis The Battle for God, Karen Armstrong, fundamentalisme merupakan gejala tiap agama dan kepercayaan yang merepresentasikan pemberontakan terhadap modernitas, yang sekelompok kecil saja dari kalangan fundamentalis itu melakukan tindakan terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas sudah bahwa fundamentalisme tidak sama dengan terorisme. Dan, fundamentalisme tidak bisa diidentikkan dengan Islam. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;* &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(255, 255, 102) none repeat scroll 0%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Rosidi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(153, 255, 153) none repeat scroll 0%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;IAIN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(255, 153, 153) none repeat scroll 0%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Walisongo&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(255, 102, 255) none repeat scroll 0%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Semarang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (email:rosidi_kalem2000@yahoo.com)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Jawa Pos, 15 Nov 2005,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-114990680783602956?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/114990680783602956/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=114990680783602956' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114990680783602956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114990680783602956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/06/fundamentalisme-bukan-terorisme.html' title='Fundamentalisme Bukan Terorisme'/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-114965579791506528</id><published>2006-06-06T21:47:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T21:49:58.033-07:00</updated><title type='text'>Dari Modern Religius Sampai Rumah Dagang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 21pt; font-family: Georgia;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Dari Modern Religius sampai Rumah Dagang&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 21pt; font-family: Georgia;"&gt;Oleh Rosidi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(204, 153, 51);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Lima tahun bukanlah waktu yang lama untuk melakukan pembenahan dan mengembangkan sebuah daerah. Namun bukan berarti tidak ada yang tidak bisa dilakukan selama lima tahun tersebut. Percepatan-percepatan dalam segala bidang, tak ada salahnya dilakukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 51);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Dr. R. Ng. Poerbatjaraka menyebutkan, di seluruh pulau Jawa, hanya ada satu tempat saja yang diberi nama dengan bahasa arab, yaitu kudus yang berarti suci. Itulah keistimewaan kota kudus yang masyarakat pada umumnya memiliki keyakinan terhadap agama Islam yang kuat sekali (Ensiklopedi Islam, 1997/1998). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Kudus mempunyai sejarah panjang yang tidak bisa dipisahkan dari nama pendirinya, yaitu Raden Ja’far Shadiq atau yang lebih dikenal dengan Sunan Kudus, salah satu Walisongo di tanah Jawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Dari namanya, bisa dilihat bahwa sunan kudus mempunyai cita-cita yang besar bagi masyarakat yang dipimpinnya. Yaitu masyarakat “suci” yang berpegang teguh pada nilai-nilai Ilahi. Hidup yang penuh kebermaknaan tanpa ambisi dan nafsu untuk menguasai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Kini, cita-cita kota kudus secara jelas dan tegas tertuang dalam jargonnya; “Semarak”. Yaitu sehat, maju, rapi dan konstituante. Cita-cita tersebut, telah mengantarkan kudus melejit menjadi kota yang demikian gemilang. Bersih, rapi, dan indah. Benar-benar semarak. Kotanya pun tertata rapi. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Disamping itu, sarana-pra sarana daerah yang semakin lengkap dan komplit, semakin mengukuhkan kota kecil ini menjadi kota yang laik diperhitungkan dalam persaingan antarderah, apalagi di era otonomi yang diberlakukan sejak 1999.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Modern religius &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Banyak kekayaan daerah yang menjadikan kudus dikenal di seantero negeri, bahkan dunia internasional. “Menara” masjidil Aqsa Kudus, adalah salah satu tempat wisata religius yang kerap dijadikan penelitian oleh peneliti-peneliti dari dinas kepurbakalaan dan jurusan ersitektur dari berbagai daerah dan luar negeri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Sayang, rumah adat kudus sekarang tinggal sedikit dan hanya tinggal hitungan jari. Padahal rumah adapt kudus adalah asset yang sangat berharga, yang kaya akan nilai seni tinggi. Penelitian tentang rumah adat kudus, salah satunya digarap secara &lt;i style=""&gt;apik &lt;/i&gt;oleh Slamet Mulyono, S.Sn., seniman kudus alumnus ISI Yogyakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Selain penelitian yang digarap Slamet Mulyono, banyak pula makalah, hasil penelitian dan buku-buku mengupas tentang eksotisme rumah adat kudus. Ia menjadi obyek kajian yang seakan tak akan pernah habis dikupas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Semua itu, tentunya merupakan kekayaan daerah yang patut dijaga, dilestarikan, dan tidak menutup kemungkinan dikembangkan menjadi kawasan wisata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Rumah adat, saat ini laik mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, terutama dari pemerintah daerah. Pematenan rumah adat Kudus sebagai kekayaan daerah, mutlak dilakukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Agenda pemerintah daerah lain, adalah menjadikan kudus sebagai kota modern religius. Ini, bukanlah hal yang berlebihan, jika melihat kesejarahan kota kudus. Jika modern itu dilihat dari segi fisik kota, maka kudus sudah bisa dikatakan modern. Itu ditandai dengan fasilitas kota yang semakin lengkap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Dan jika ukuran modernitas itu diukur dari semakin rasionalnya cara berpikir masyarakat, maka kudus tidak menghadapi kendala yang berarti. Karena di sana banyak berdiri lembaga pendidikan baik dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi yang bisa dibilang cukup bonafid dan menjadi tujuan belajar para generasi muda dari berbagai daerah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Berbagai lembaga pendidikan yang ada, bisa dijadikan sarana mengembangkan wacana berpikir kritis dan rasional, yang, dalam pandangan sementara filosuf, dipandang sebagai salah satu ciri modernitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Sementara religius-(itas) masyarakatnya, sebenarnya telah menjadi cita-cita awal didirikannya kota kudus. Kudus yang berarti suci, yang, seperti dikatakan Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, masyarakat pada umumnya memiliki keyakinan terhadap agama (terutama, &lt;i style=""&gt;pen&lt;/i&gt;) Islam yang kuat sekali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;b style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Rumah Dagang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Selain kemungkinan menjadi kota “modern religius” yang masih dikaji, sebenarnya kudus mempunyai sebuah asset yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kudus. Yaitu sebuah rumah dagang di ibukota Jakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Pembangunan rumah dagang kudus di jakarta tersebut, seperti dikatakan Bupati Ir. H. M. Tamzil, MT dalam sebuah kesempatan bertemu dengan pengusaha di kabupaten Kudus, adalah untuk memberi kemudahan warganya menembus pasar dan memperlancar promosi usaha masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Alasan pembuatan rumah dagang berlantai lima di jakarta itu, diilhami oleh banyaknya industri kecil kota kudus yang dihasilkan berkualitas internasional. Ini tentu sebuah pemikiran yang jauh ke depan yang laik mendapatkan apresiasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Tidak cukup sampai di sini. Pemerintah daerah kudus juga sedang menggagas pendirian rumah dagang lain di tiga lokasi lain. Yaitu di pulau Batam yang berhadapan langsung dengan Singapura, serta Bali dan Yogyakarta, dua tempat yang banyak menjadi tujuan wisatawan asing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Dua nama kota yang terakhir disebut; Bali dan Yogyakarta, adalah dua kota yang tidak bias diabaikan untuk mepromosikan kekayaan daerah. Karena dikedua kota tersebut, banyak wisatawan asing yang berkunjung. Kondisi demikian tentu akan menguntungkan sebagai promosi yang murah dan efisien. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Akhirnya, berbagai terobosan yang dilakukan pemerintah daerah kudus tersebut, bisa menjadi contoh bagi pemerintah daerah (kabupaten) lain di Indonesia. Bahwa lima tahun masa jabatan memimpin pemerintahan daerah memang bukan waktu yang lama, tapi tidak berarti tidak ada yang bisa dilakukan bukan? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-114965579791506528?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/114965579791506528/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=114965579791506528' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114965579791506528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114965579791506528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/06/dari-modern-religius-sampai-rumah.html' title='Dari Modern Religius Sampai Rumah Dagang'/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-114965277114913074</id><published>2006-06-06T20:56:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T20:59:31.256-07:00</updated><title type='text'>Shalawat Habsyi:</title><content type='html'>&lt;h2 style="text-align: left; font-family: arial;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size: 19pt; font-weight: normal;"&gt;Shalawat Habsyi&lt;i&gt;:&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;h2 style="text-align: left;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size: 19pt; font-family: Georgia; font-weight: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 26pt; font-family: Georgia;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Menabur Kasih Menebar Iman&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/h2&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;h1 style="text-align: right; text-indent: 27pt; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: Georgia; font-weight: normal;"&gt;Riuh bunyi ‘terbang’ bertalu-talu dipadu lantunan shalawat. Para pengunjung pun dibuat fly dan ectase oleh puji-pujian terhadap Rasulullah yang menyentuh kalbu.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Georgia; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;h1 style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 4pt; font-family: Georgia; font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;h1 style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia; font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;h1 style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: normal; font-family: lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal;"&gt;Hari itu malam Jum’at Pahing. Sesosok lelaki berpeci putih menyalami para tamu yang datang dengan mengendarai sepeda, sepeda motor, bahkan mobil, yang datang dari berbagai desa dan pesantren di kudus, jepara, pati dan demak . &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;h1 style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: normal; font-family: lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal;"&gt;Beliau adalah Habib Hasan Ali Bunumay. Sudah menjadi kebiasaan, sejak kehadirannya dan menetap di Desa Jepang Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus ini, setiap malam jum’at pahing, diadakan Jama’ah Shalawat al-Habsy di rumahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align: justify; line-height: normal; font-family: lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Itu berlangsung sampai beberapa lama. Namun akhirnya, di rumahnya tidak hanya dijadikan untuk jamaah shalawat al-habsyi. Atas saran sahabatnya KH. Masyhud (alm.),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di rumahnya juga diadakan kajian kitab kuning. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align: justify; line-height: normal; font-family: lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Usul Kyai Masyhud diterima. Dan, “Kyai masyhud lah cikal bakal adanya kajian kitab kuning di sini. Sekarang, pengajian bahkan diadakan setiap malam habis maghrib kecuali malam jum’at. Khusus malam jum’at dibuat untuk jamaah dzikir &lt;i&gt;Ratib al-Haddad&lt;/i&gt;,” tutur habib hasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align: justify; line-height: normal; font-family: lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Siapa saja yang mengajar kajian kitab di rumahnya? Beberapa nama Kyai dan Ustadz yang mengajar di rumahnya adalah KH. Masyhud (alm.) dari Mejobo, KH. A. Badawi Zain (alm.) dari Jelak, Ust. Abdul Basith Putera KH. Abd. Qadir (Kudus), Ust. Salim (Golantepos), Ust. Abd. Basir Marilam (Golantepos), Ust. Noor Ali (Demak), Ust. Khamdan (Loram Kulon), Ust. H. Noor Sa’id (Beji) dan Ust. Baha’uddin (Mejobo).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Wahana Silaturrahmi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;"&gt;Shalawat habsyi berangkat dari kitab &lt;i&gt;Shimtut Durar fii Akhbaar Maulid Khairil Basyar wa Maa Lahu min Akhlaq wa Aushaaf wa Siyar&lt;/i&gt; (untaian mutiara kisah kelahiran manusia utama: akhlak, sifat dan riwayat hidupnya). Berisi puji-pujian kepada Nabi Muhammad Saw., karya Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;"&gt;Muallif &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;"&gt;lahir pada 25 Syawwal 1259 H. di Qasam, salah satu kota di Hadramaut, dan wafat pada 20 Rabi’ul Awwal 1373 H. Beliau lahir dari pasangan al-Imam al-Arif Billah Muhammad bin Husain bin Abdullah al-Habsyi dan as-Syarifah Alawiyah Binti Husain bin Ahmad al-Haadi al-Jufri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Dulu, shalawat habsyi ini terkenal sangat eksklusif sebagai (kitab) maulidnya &lt;i&gt;habaib&lt;/i&gt;. Kebanyakan dari &lt;i&gt;dzuriyah &lt;/i&gt;(keturunan) rasulullah saw. itulah yang mengamalkannya, tak terkecuali di kudus Sedang untuk masyarakat ‘&lt;i&gt;awam&lt;/i&gt;, biasanya mengamalkan kitab maulid karya Syeh Ja’far al-Barzanji.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Namun, sejak kehadiran habib hasan di kudus tepatnya di desa jepang, anggapan seperti itu pupus sudah. Berkatnya, maulid habsyi kini dikenal masyarakat luas terutama di kudus dan sekitarnya. “Sejak ada Habib Hasanlah shalawat habsyi mulai dikenal masyarakat kudus secara luas,” kata H. Syafiq, salah satu pejabat desa jepang yang juga santrinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Pernyataan Syafiq itu dibenarkan Abdul Aziz, salah seorang santri yang telah berhasil mendirikan jama’ah shalawat habsyi se-kecamatan mejobo bersama teman-temannya. “sebelum habih hasan datang, jarang orang mengenal shalawat habsyi. Setelah kehadirannya, shalawat habsyi makin terkenal. Setiap malam jum’at pahing, masyarakat berbondong-bonding ke rumahnya mengikuti jamaah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Aziz mmenambahkan, shalawat habsyi semakin banyak diikuti orang pas bulan &lt;i&gt;maulid&lt;/i&gt;, yaitu saat peringatan kelahiran baginda Nabi. “Ya, karena saat itu shalawat habsyi diselenggarakan secara besar-besaran dan mendatangkan banyak kyai &lt;i&gt;sepuh &lt;/i&gt;dan habaib. Tidak hanya dari kudus, tapi juga dari berbagai kota lain seperti Jepara, Demak, Pati, Tegal, dan Pekalongan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Apa manfaat shalawat habsyi? Abdul Aziz, salah seorang santri yang juga Mahasiswa STAIN Kudus ini yang diamini Syafiq menyatakan, shalawat habsyi bisa dijadikan sebagai ajang bersilaturhhami ummat. “Saat ada jamaah, secara otomatis orang yang datang bisa berinteraksi dengan saudara-saudaranya dari luar kampung bahkan daerahnya. Dengan itu, tentu rasa persaudaraan akan semakin terpupuk.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Sementara itu habib hasan ketika ditemui Aula menjelaskan, selain mengharap syafaatur rasul, jamaah shalawat habsyi juga sebagai wahana bersilaturrahmi secara tidak langsung. Karena dalam kesempatan itu, masyarakat bisa berkumpul dengan saudara-saudara dari berbagai penjuru kampung atau kota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Wahana Memupuk Keimanan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Selain sebagai wahana silaturrahmi umat, jamaah habsyi juga menjadi media dakwah bagi masyarakat, media memupuk keimanan santri yang datang mengikutinya. Karena dalam setiap jamaah shalawat yang diadakan, selalu dihadiri dan diisi ceramah para kyai sepuh dan habaib baik dari kota kudus sendiri maupun luar kudus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Media berdakwah lewat shalawat habsyi itu, semakin santer dan tepat dilakukan di tengah kondisi masyarakat yang memang butuh sesuatu untuk menyegarkan pikiran dan jiwanya dari kondisi sosial kemasyarakatan yang semakin menggila dengan berbagai atribut kemodernan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Artinya, butuh kejelian untuk berdakwah agar bisa diterima oleh masyarakat. Tidak sekadar kecerdasan, melainkan dibutuhkan strategi jitu untuk memuluskannya. Sebagaimana Walisongo yang melakukan dakwah lewat (seni) budaya di Jawa, dengan pertimbangan itulah alat yang bisa dijadikan alat untuk mendekati masyarakat. Yaitu dengan adaptasi budaya dan peka terhadap lingkungan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Proses adaptasi dan kepekaan lingkungan seperti ini, mau tidak mau harus dilakukan. Karena semua orang tidak bisa lepas darinya. Seperti kata Ortega y Gasset: &lt;i&gt;I am I and my circumstances &lt;/i&gt;(aku adalah aku bersama dengan lingkunganku). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Sehingga, karena adaptasi dan kepekaan terhadap lingkungan seperti itulah, jangan heran ketika dua kalimat syahadat dalam terma (istilah) pewayangan ciptaan Sunan Kalijaga menjadi ‘Jimat Kalimasada’.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h1 style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia; font-weight: normal;"&gt;Seperti halnya walisongo yang berhasil dengan dakwah lewat budaya dan kesenian, habib hasan, dalam ruang dan waktu yang berbeda, berhasil memasukkan nilai-nilai moral-relijius lewat jama’ah habsyi dan pengajian-pengajian yang secara rutin dijalankannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;"&gt;Keberhasilan itu ditambahi dengan semakin banyaknya orang yang datang mengaji dan berdirinya jamaah-jamaah shalawat habsyi, yang kian marak di kota kretek ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;"&gt;Shallallah ‘ala muhammad shallallah ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;"&gt;. Gema puji-pujian atas rasul terus dilantunkan. Para jamaah dengan khusuk mengikutinya. Ratusan penabuh terbang yang mengiringi, menambah khusyuknya suasana, teringat kebesaran &lt;i&gt;Rabbi&lt;/i&gt;, mengharap syafaat ‘Sang Kekasih’, laiknya Jalaluddin Rumi yang &lt;i&gt;ectasy &lt;/i&gt;dengan puisi-puisi cinta yang ditujukan kepada Yang Ilahi, hingga akhirnya ia merasa satu, menyatu dengan sang kekasih (Allah Swt.). (Rosidi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h3 style="line-height: normal; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Majalah Aula edisi Juli 2005&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: right;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-114965277114913074?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/114965277114913074/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=114965277114913074' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114965277114913074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114965277114913074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/06/shalawat-habsyi.html' title='Shalawat Habsyi:'/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-114965195236476678</id><published>2006-06-06T20:43:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T20:51:40.580-07:00</updated><title type='text'>Korupsi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: center; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:30;"  &gt;Korupsi: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 9pt; text-align: right; color: rgb(255, 0, 0);font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:18;"&gt;Common Enemy &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:18;"&gt;&amp; Candu Penghambat terwujudnya Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kemerdekaan bangsa Indonesia yang diraih dan diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 oleh duet Soekarno-Hatta, mengamanatkan untuk mengantarkan rakyat Indonesia menuju bangsa yang berdaulat, bersatu, adil dan makmur. Cita-cita luhur itu tertuang dalam &lt;i style=""&gt;preamble &lt;/i&gt;Undang-undang Dasar (UUD) 1945 yang dipertegas dengan Pasal 33 ayat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;3 dan 4 UUD 1945. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pasal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;33 ayat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;3 UUD 1945 menyatakan, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Sementara pasal 33 ayat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;4 UUD 1945 menegaskan, “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mewujudkan ketahanan pangan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi semua warga Negara Indonesia, bukanlah sesuatu yang sulit kiranya, jika para pemegang kekuasaan (pemerintah) yang ada berjalan sebagaimana mestinya. Yaitu pemerintahan yang sadar akan tanggungjawabnya dalam mengemban amanat rakyat dan amanat kemerdekaan. Bukan sebaliknya, kekuasaan dijadikan alat untuk meraih kepentingan atau kesenangannya sendiri dan kelompoknya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau tidak kurang dari 13.667 buah, luas wilayah mencapai 5.193.250 KM² dari 509.950.000 KM² luas dunia, dan luas daratan 1.904.640 KM² dari 150.225.000 KM² luas daratan dunia yang ada.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah luas wilayah yang sangat luas, yang didukung dengan suburnya tanah yang mampu menghasilkan berbagai macam hasil bumi (pertanian) yang berankeka ragam pula. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Padi, jagung, kedelai, bawang putih, bawang merah, kapas, tembakau, cengkeh, kopi, teh, karet, adalah sedikit nama untuk menyebutkannya sebagai contoh. Masih banyak berbagai macam hasil bumi dan sayur-sayuran lain yang dimiliki negeri ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dengan berbagai kekayaan alam yang berpotensi besar untuk dikembangkan, tidaklah sulit sebenarnya mewujudkan cita-cita &lt;i style=""&gt;founding fathers &lt;/i&gt;pendiri bangsa, yaitu kesejahteraan dan kemakmuran bagi semua warga negara. Apalagi, selain berbagai hasil bumi yang akan melimpah jika dikelola dengan baik, Indonesia juga mempunyai lautan yang sangat luas dengan hasil lautnya yang sangat melimpah pula. Karena luasnya lautan di Indonesia ini pula, Indonesia tidak hanya dikenal sebagai Negara agraris, juga maritim.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, dengan berbagai kekayaan alam yang melimpah, mengapa Negara Indonesia tidak juga mengalami kemakmuran? Kemiskinan bahkan melanda jutaan warganya. Ini dibuktikan dengan adanya wabah busung lapar yang melanda beberapa waktu lalu, semakin banyaknya gelandangan dan pengemis jalanan, serta banyaknya warga Negara yang mengaku miskin secara “berjamaah”, dengan tujuan agar mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) sebagai konsekuensi dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;A. Budaya Korupsi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Banyak hal yang dapat dinyatakan untuk menjelaskan mengapa kemiskinan melanda. Namun satu yang tidak bisa dibantah, bahwa salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini adalah korupsi yang telah menjadi budaya hampir di setiap lapisan masyarakat kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) dinyatakan, korupsi adalah tindakan penyelewengan atau penyalahgunaan uang Negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Situs Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia menulis, korupsi berasal dari bahasa latin “corruption” dari kata kerja “corrumpere” yang berarti busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik dan menyogok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sementara Transparency International mendefinisikan korupsi sebagai perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dalam konteks Indonesia, korupsi telah menjadi penyakit sosial yang sudah sangat akut. Ia telah menjadi budaya yang tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang &lt;i style=""&gt;kepepet &lt;/i&gt;dan dari kelompok ekonomi lemah sehingga terpaksa melakukan korupsi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Tetapi lebih banyak dilakukan oleh para pejabat baik dari instansi pemerintah maupun swasta yang telah berlebih dalam hal kesejahteraan hidup dan perekonomiannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hampir tidak ada satu instansi pun yang &lt;i style=""&gt;steril &lt;/i&gt;dari penyakit ini. Departemen Agama (Depag), lembaga pemerintah yang seharusnya sebagai penyeru moral dan kesalehan, tak luput dari padanya. Mahkamah Agung (MA),&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; lembaga peradilan tertinggi negara yang seharusnya steril dari aktifitas yang bisa menjadikan alat pemiskinan sistematis ini, juga tak lepas dari permasalahan moralitas dan mentalitas yang sangat &lt;i style=""&gt;bobrok &lt;/i&gt;ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dalam buku Kekerasan dalam Politik yang Over Akting (1998), Revrisond Baswir, lewat tulisannya berjudul “Kesenjangan, Konglomerasi, dan Korupsi dalam Ekonomi Indonesia” menulis, buruknya pengawasan terhadap berbagai instansi yang ada, adalah pemicu utama terjadinya korupsi. Buruknya sistem pengawasan terhadap berbagai lembaga yang ada, itu dibuktikan, bahwa meski sudah ada lembaga pengawas seperti DPR dan BPK, namun korupsi tetap saja tumbuh dengan suburnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Selain masalah buruknya pengawasan, mentalitas juga menjadi salah satu penyebabnya. Meski, menurut Baswir, mentalitas tidaklah tepat dijadikan sebagai penilaian terjadinya korupsi. Karena jika praktik korupsi itu terjadi karena mentalitas, maka semua –minimal kebanyakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang Indonesia- melakukan hal yang sama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Namun di sini, penulis tetap memandang mentalitas sebagai salah satu pemicu tindak korupsi, yang terjadi akibat lemahnya pemahaman agama seseorang yang kurang komprehensif dan tidak aplikatif. Mentalitas adalah masalah moralitas, yang tidak terlepas dari agama. Karena agama lah yang banyak mengajarkan tentang &lt;i style=""&gt;value &lt;/i&gt;(nilai-nilai) atau moralitas tersebut. Namun sayang, dalam keseharian, agama lebih banyak dilihat sebagai &lt;i style=""&gt;knowledge &lt;/i&gt;(pengetahuan) dan bukan sebagai seperangkat nilai etik-moral yang harus diamalkan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dalam buku yang sama, Artidjo Alkotsar lewat tulisannya berjudul Kontrol Hukum terhadap Kekuasaan melihat, maraknya korupsi itu terjadi karena lemahnya bangunan dan paradigma hukum yang ada di Indonesia. Padahal, kekuasaan yang tidak berparadigma hukum akan menimbulkan tirani, ketidakadilan dengan berbagai corak serta paradok-paradok pembangunan seperti halnya ketidakadilan di bidang ekonomi, banyakbnya korupsi, meningkatnya kejahatan kesusilaan, serta ironi-ironi kejahatn hukum lainnya. Selain hal-hal di atas, maraknya korupsi itu juga dipicu oleh adanya birokrasi yang melebihi batas kewenangannya dan melanggar batas aturan hukum yang ada. Ada paradoks dalam sistem hukum di Negara kita. Satu sisi, hukum dibuat untuk ditegakkan. Tetapi di sisi yang lain, hukum yang ada bahkan dilanggar para penguasa yang seharusnya menegakkan hukum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dr. Soerjono Soekanto, SH. MA. (1999) menyatakan, “Hukum berisikan ketentuan-ketentuan tentang bagaimana manusia dapat menjalankan serta memperkembangkan hak-haknya, mempertahankan hak-haknya, memperkembangkan kesamaan derajat manusia, serta menjamin kesejahteraannya dan seterusnya. Tetapi di lain pihak, hukum dapat menjadi alat yang ampuh untuk mengendalikan warga-warga masyarakat atau dapat dijadikan sarana oleh sebagian kecil warga masyarakat yang menamakan dirinya sebagai penguasa, untuk mempertahankan kedudukan sosial-politik-ekonominya yang lebih tinggi dari bagian terbesar warga masyarakat. Hukum dapat menjadi alat yang potensial bagi pemerintah yang bersifat tiranis. Ironisnya, inilah yang lebih banyak kita saksikan dalam sistem pemerintahan kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kembali kepada masalah korupsi. Secara umum, praktik korupsi yang telah menjadi budaya dalam masyarakat kita, itu disebabkan oleh kekuasaan yang tidak bertanggungjawab langsung kepada rakyat, tapi lewat perwakilan “wakil-wakil” rakyat di DPR yang rentan terjadi penyogokan-penyogokan, yang pada gilirannya akan berpengaruh besar pada penentuan kebijakan. Hal lain, kurangnya transparansi dalam pengambilan keputusan pemerintah, terutama sekali dalam penentuan anggaran, kampanye-kampanye politik yang mahal, dengan pengeluaran lebih besar dari pendanaan politik yang normal, proyek yang melibatkan uang rakyat dalam jumlah besar, lingkungan tertutup yang mementingkan diri sendiri dan jaringan teman, lemahnya ketertiban hukum, lemahnya profesi hukum, kurangnya kebebasan berpendapat atau kebebasan media massa, dan kecilnya gaji pegawai negeri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:180%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;B. Korupsi, Dampaknya bagi Negara dan Masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:180%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Adalah hal yang ironis. Karena praktik-praktik korupsi yang terjadi di Indonesia, ternyata banyak dilakukan oleh para pejabat, wakil rakyat, dan tokoh-tokoh yang seharusnya menjadi panutan masyarakat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Banyak nama pejabat, wakil rakyat, dan tokoh-tokoh yang seharusnya menjadi panutan masyarakat, tapi malah terjerumus, atau sekurang-kurangnya tersandung kasus korupsi. Abdullah Puteh (mantan Gubernur Aceh), Abilio Soares (mantan Gubernur Timor Timur), Akbar Tandjung (mantan Ketua DPR), Basuki (mantan ketua DPRD Surabaya), Bob Hasan (mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan), Ida Bagus Oka (mantan Gubernur Bali dan Menteri Sosial), M. Sahid (wakil walikota Bogor), Nurdin Halid (ketua PSSI), Rahardi Ramelan (mantan Menteri Perdagangan), Syahril Sabirin (mantan Gubernur Bank Indonesia), Beddu Amang (mantan Kepala Bulog), Said Agil Husin Al Munawar (mantan Menteri Agama), Heru Supraptomo (mantan direktur Bank Indonesia), Hendro Budiyanto (mantan direktur Bank Indonesia), Paul Sutopo (mantan direktur Bank Indonesia), Nazaruddin Sjamsuddin (ketua KPU), Safder Yusacc (mantan sekjen KPU), Mulyana W. Kusumah (anggota KPU), Rusadi Kantaprawira (anggota KPU).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Deretan panjang para pelaku korupsi ini akan semakin panjang, seandainya dilakukan penyidikan dan penyelidikan di berbagai Provinsi, Kotamadya/ Kabupaten di seluruh Indonesia. Karena banyak sekali Pejabat, mantan pejabat, anggota DPRD maupun mantan anggota DPRD yang terlibat kasus korupsi. Berita tentang korupsi dengan berbagai problematikanya bahkan dapat kita simak hampir setiap hari baik di media massa nasional maupun lokal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Yang paling menyedihkan saat ini, adalah kenyataan bahwa ketua Mahkamah Agung Bagir Manan juga terkena kasus suap atas kasus Probosutejo yang tentu saja sangat mencoreng lembaga tertinggi yang seharusnya menegakkan hukum. Bisa dipahami, kalau lembaga yang seharusnya menegakkan hukum saja sudah tercemar oleh praktik korupsi, maka mentalitas dan hukum di Negara ini memang sudah sangat rapuh. Karena (seakan) tiada lagi lembaga yang bersih dari tindak korupsi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dari berbagai korupsi yang dilakukan oleh para pejabat, Negara mengalami kerugian triliunan rupiah. Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, SH. MH. dalam sambutannya di Dies Natalis ke-23 Universitas Pekalongan (Unikal) mengatakan, uang negara yang dikorupsi mencapai Rp 305 triliun. Angka yang sangat besar, yang seharusnya bisa lebih bermanfaat seandainya dipergunakan untuk menyubsidi sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan, subsidi kesehatan bagi orang miskin, atau dipergunakan untuk memberi beasiswa bagi siswa putus sekolah karena tidak mampu memikul beban pendidikan yang demikian mahal (Suara Merdeka, 06 September 2005). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kerugian Negara senilai Rp 305 triliun itu, belum terhitung berbagai korupsi yang terjadi di berbagai pemerintah daerah (Pemda) dan DPRD baik Pemda tingkat Provinsi maupun Kotamadya/Kabupaten. Belum lagi, korupsi yang terjadi di lingkungan pengadilan ataupun kejaksaan yang sangat sulit ditemukan karena tidak tampak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Parahnya lagi, di Negara ini, tidak hanya uang Negara yang dikorupsi. Bahkan dana kemanusiaan untuk membantu korban bencana alam seperti Tsunami, juga dikorupsi juga. Akibatnya, penderitaan rakyat yang sudah demikian berat, menjadi semakin berat karenanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:180%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;C. Korupsi Lebih Berbahaya dari &lt;i style=""&gt;Khamr&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ada keterkaitan antara korupsi dengan pecandu &lt;i style=""&gt;khamr &lt;/i&gt;(arak/minuman keras). Keterkaitan itu ialah bahwa pecandu minuman keras akan semakin kecanduan dan akan semakin tenggelam dalam minuman, yang, dalam al-Qur’an, diakui mempunyai manfaat, tetapi &lt;i style=""&gt;madlarat &lt;/i&gt;(efek negatif) yang ditimbulkannya adalah lebih besar. “Mereka bertanya kepadamu tentang &lt;i style=""&gt;khamr &lt;/i&gt;dan judi. Katakanlah: pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya" (QS. 2:219).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Manfaat minum khamr, orang bisa merasa lebih berani dan tidak takut kepada apapun. Khamr juga bisa menghilangkan perasaan kalut akibat beban pikiran yang terlalu berat, meski sementara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pun demikian dengan korupsi. Korupsi itu mempunyai manfaat, yaitu untuk mensejahterakan kehidupan pribadi, keluarga dan kelompoknya. Tapi harus disadari bahwa betapa besar dampak negatif yang ditimbulkan oleh korupsi ini. Tidak hanya Negara yang dibuat rugi dan terpuruk karenanya. Tetapi kemiskinan yang lebih luas akibat keterpurukan ekonomi Negara, berimbas pada pemiskinan terhadap rakyat kecil hingga membuat rakyat kecil semakin menderita. Karena perokonomian Negara yang rapuh, semua harga barang dan kebutuhan pokok serta transportasi, dipermainkan oleh pasar global (baca: kapitalisme). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Korupsi adalah cermin rakusnya orang-orang kaya, yang karenanya, orang miskin semakin tidak berdaya dan kelaparan dibuatnya. Sehingga benar apa yang dikatakan Ali Ibnu Abi Thalib, “Tidak akan lapar orang miskin kecuali karena rakusnya orang kaya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Karena efek korupsi yang demikian hebat dalam memiskinkan Negara dan rakyat, maka korupsi harus diperangi, diberantas dan dihapuskan. Ali ibnu Abi Thalib seperti dikutip Jalaluddin Rakhmat (1998) dari Dr. Nabil Subhi ath-Thawil dalam &lt;i style=""&gt;al-Hirman wa al-Takhalluf fi Diyar al-Muslimun &lt;/i&gt;berkata, “Seandainya kemiskinan berujud seorang manusia, niscaya aku akan membunuhnya.” Kalau Ali saja berkeinginan membunuh kemiskinan seandainya berujud seorang manusia, bisa dibayangkan seandainya betapa marah dan geramnya Ali melihat orang-orang yang mengakibatkan kemiskinan itu muncul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:180%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;D. Agama Melarang Korupsi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Melihat praktik korupsi yang telah mengakibatkan kerugian besar bagi Negara dan pemiskinan sistematis bagi rakyat, maka kita tidak bisa membiarkannya begitu saja. Harus ada upaya dan solusi yang visioner, progresif dan transformatif untuk melawannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Perang melawan korupsi, tidak bisa tidak harus dihembuskan ke segenap lapisan masyarakat. Harus ditanamkan pula dalam setiap sanubari masyarakat kita, bahwa korupsi adalah &lt;i style=""&gt;common enemy &lt;/i&gt;(musuh bersama) dan candu (&lt;i style=""&gt;opium&lt;/i&gt;) yang harus diberangus keberadaannya, karena selain ia telah menjadi alat pemiskinan besar-besaran bagi rakyat, juga menjadi penghambat bagi terwujudnya pemerintahan yang bersih dan berwibawa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Harus ada sebuah kesepahaman juga diantara semua warga Negara bahwa korupsi adalah tindakan keji dan kejam (&lt;i style=""&gt;fakhsya’ wa al munkar&lt;/i&gt;) yang sangat dilarang agama. Tidak ada satu agama pun yang mensahkan tindakan yang tidak terpuji ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bagi Islam, orang yang korupsi sama dengan orang yang tidak beragama, atau paling tidak, tidak sempurna imannya, karena tiada lagi sifat amanah dalam dirinya. Diriwayatkan oleh Ahmad bahwa Rasulullah Muhammad Saw., bersabda: “Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah …” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ajaran Buddha Gautama menjelaskan, “Janganlah berbuat kejahatan, berbuatlaj kebajikan, sucikan hati dan pikiran. Inilah ajaran para Buddha”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hindu, dalam ajarannya menyatakan: &lt;i style=""&gt;“Pranatipatam stainyam ca, paradaranathapi wa, trini papani kayena sarwatah, pariwarjawet”. &lt;/i&gt;Artinya, inilah yang tidak patut kau lakukan, membunuh, mencuri, berzina, ketiganya itu jangan hendaknya kau lakukan terhadap siapapun, baik secara berolok-olok, bersendau gurau, dalam keadaan dirundung malang, bahkan dalam keadaan mimpipun hendaknya supaya dihindari ketiganya itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Tak berbeda dengan Islam, Buddha dan Hindu, Kristen juga melarang praktik korupsi. Dalam Kristen, terkenal kisah pengkhianatan Yudas Iskariot terhadap Yesus. Yudas adalah pemegang kas dari para rasul Yesus. Dan dalam al-Kitab dijelaskan, bahwa ia adalah seorang pencuri yang kerapkali mengambil uang kas tersebut untuk kepentingannya sendiri. Ia pula yang menyebabkan Yesus ditangkap dan dihukum mati. Akhirnya ia pun dibenci oleh rasul Yesus lainnya dan penyesalannya pun dicibirnya pula. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Demikian lah, bahwa korupsi itu, dalam pandangan agama apapun, adalah dosa yang sangat berdampak buruk bagi orang lain, bahkan bisa menyebabkan orang kehilangan nyawa. Karenanya korupsi harus dilawan dan dihapuskan dari muka bumi, sebagaimana kita harus melawan dan menghapuskan penjajahan (imperislisme) demi terwujudnya sebuah kemerdekaan bagi semua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;E. Kesimpulan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Korupsi adalah tindakan biadab yang harus dihapuskan. Karena telah menjadi instrument pemiskinan bagi banyak orang. Dulu, para sosiolog dan antropolog umumnya berpendapat, kemiskinan yang melanda manusia, digolongkan dalam dua bentuk, yaitu individual dan &lt;i style=""&gt;structural&lt;/i&gt;. Kemiskinan individual terjadi karena malas dan tidak suka bekerja keras. Sedang kemiskinan structural terjadi karena struktur masyarakat, termasuk di dalamnya adalah sistem yang korup. (Dr. H. A. Qadri A. Azizy, MA, : 2003). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Namun dalam konteks Indonesia saat ini, praktik korupsi inilah yang lebih berperan besar sebagai alat pemiskinan terhadap rakyat. Berapa banyak uang Negara yang seharusnya dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat, dicuri dan diambil oleh para oknum pejabat yang tidak punya hati nurani. Karena itu, korupsi adalah musuh bersama yang harus dimusuhi, sebelum ia menjadi candu yang akan mengakibatkan seseorang untuk terus melakukannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;F. Saran – saran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Menghilangkan korupsi adalah hal yang tidak mudah. Apalagi di negeri ini, korupsi sudah menjadi budaya yang sangat akut dan dilakukan oleh pejabat dari level yang tinggi hingga level bawah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Karena itu, ada beberapa saran yang barangkalim bisa menjadi alternative atau solusi mengatasi masalah korupsi yang melanda negeri ini. &lt;i style=""&gt;Pertama&lt;/i&gt;, Memaksimalkan peran agamawan dalam hal pemberantasan korupsi. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius, yang masih menepatkan kaum agamawan sebagai seorang panutan yang harus diikuti. Karena itu, berbagai penjelasan para agamawan tentang bahaya korupsi, bisa berperan besar untuk menghilangkan, minimal meminimalisir praktik korupsi yang ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Inilah inti dari tesis yang dikemukakan Dr. Bahtiar Effendy yang dikutipnya dari Robert N. Bellah (2001) bahwa agama adalah instrumen ilahiah untuk memahami dunia. “Memahami dunia” di sini dalam arti agama sebagai refleksi dan pemandu manusia dalam setiap perbuatan dan tindakannya yang harus dapat dipertanggungjawabkan dalam kerangka peran dan fungsinya yang sangat luhur sebagai &lt;i style=""&gt;khalifah fi al-ardl&lt;/i&gt;, pengelola dan pemelihara bumi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pemahaman segenap masyarakat terhadap pesan universal agama adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Selama ini, agama lebih banyak mengekspresikan diri (dipahami) sebagai mitos, &lt;i style=""&gt;logos &lt;/i&gt;dan ritus. Sehingga dalam dataran aplikatifnya, tidak bisa menjadi pemandu bagi perilaku dan perbuatan sehari-hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Nah, ke depan, bagaimana menjadikan agama sebagai kebutuhan hidup yang harus dikonsumsi semua orang yang ingin hidup dalam kehidupan yang normal, selaras, dan bertanggungjawab, adalah hal yang harus dilakukan. Agama adalah kebutuhan hidup yang sangat diperlukan sebagaimana tubuh membutuhkan makan, minum dan berbagai vitamin agar sehat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;, hukum yang tegas dan berlaku bagi semua. Saat ini, masih banyak kasus korupsi yang &lt;i style=""&gt;mangkrak &lt;/i&gt;dan tidak kunjung kejelasannya. Para pejabat yang terlibat pun masih bisa dengan leluasa pergi kemana mereka mau, tanpa pernah merasa melakukan perbuatan yang sangat dilarang agama dan dibenci oleh masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ketiga, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;bentuk jalinan kerjasama antara komisi pemberantasan korupsi (KPK), agamawan, dan masyarakat, untuk melakukan tugas bersama memberantas korupsi. Lembaga peradilan yang ada, juga harus menjadi lembaga yang benar-benar &lt;i style=""&gt;independent &lt;/i&gt;dan berani menjalankan tugasnya dengan memberikan hukuman kepada orang yang bersalah, tak terkecuali kepada para pejabat yang korupsi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Keempat, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;bentuk lembaga pengawasan pemerintah yang benar-benar independent dan dapat dipercaya. Sekarang ini memang sudah ada DPR yang klaim formalnya adalah “wakil rakyat”. Tapi dalam praktik di lapangan, justru para wakil rakyat yang seharusnya mengawasi peemrintah ini banyak yang terlibat dan melakukan korupsi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kelima, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;transparansi terhadap setiap kebijakan yang dibuat pemerintah, tentu saja selain kebijakan yang bersifat rahasia dan hanya boleh diketahui Negara. Namun tidak cukup transparansi saja. Masukan-masukan dari rakyat juga harus menjadi pertimbangan pemerintah dalam membuat kebijakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Akhirnya, korupsi adalah sebuah penyakit sosial yang harus dilawan, diperangi dan dihapuskan dari muka bumi. Karena betapa dampak &lt;i style=""&gt;negative &lt;/i&gt;yang ditimbulkannya demikian hebat. Yaitu kebangkrutan Negara dan kemiskinan yang melanda dimana-mana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:17;"  &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Daftar Bacaan:&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:17;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;---------------- Deprtemen Agama RI, &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Al-Qur’an dan Terjemah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Diponegoro Bandung, 2000&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;---------------- &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;UUD Dasar 1945 dan Perubahannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;---------------- Busyro Muqoddas DKK., &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Kekerasan Politik yang Over Akting&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, LKBH Universitas Islam Indonesia, Cet. I Juni 1998.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;---------------- Jalaluddin Rakhmat, &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Islam Alternatif: Ceramah-ceramah di Kampus&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Mizan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bandung, cet. IX Rajab 1419 h/ November 1998. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;---------------- &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Suara Merdeka&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, 06 September 2005&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;---------------- Prof. Dr. Nashruddin Baidan dkk., &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Teologi Islam Terapan: UPaya Antisipatif Terhadap Hedonisme Kehidupan Modern&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Tiga Serangkai Solo cet. I 2003.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;---------------- M. Din Syamsuddin, &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Islam &amp; Politik Era Orde Baru&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Logos Wacana Ilmu Jakarta, cet. I Dzulqa’dah 1412 H/ Februari 2001 M.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;---------------- Drs. H. Yunahar Ilyas, LC. MA. DKK., &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Korupsi dalam Perspektif Agama-agama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Lembaga Penelitian &amp; Pengembangan Pendidikan (LP3) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bekerjasama dengan &lt;i style=""&gt;Governance Reform in Indonesia &lt;/i&gt;dan Koalisi Antarumat Beragama Antikorupsi Yogyakarta, cet. I Juli 2004.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;---------------- Suwidi Tono (ed.), &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno – Hatta&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, PT. Visi Gagas Media Jakarta, cet. I Mei 2000&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;---------------- Drs. Kaelan, MS., &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Pendidikan Pancasila&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Paradigma Yogyakarta edisi Keenam, 2002.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;---------------- &lt;a href="http://www.wikipedia.com/"&gt;http://www.Wikipedia.com&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-114965195236476678?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/114965195236476678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=114965195236476678' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114965195236476678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114965195236476678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/06/korupsi.html' title='Korupsi'/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-114965166707233543</id><published>2006-06-06T20:39:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T20:41:07.260-07:00</updated><title type='text'>Islam, (Agama) Rahmat atau Teroris</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 21pt; font-family: Georgia; font-weight: bold; color: rgb(51, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Islam, (Agama) Rahmat atau Teroris&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 21pt; font-family: Georgia;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Oleh Rosidi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; color: rgb(102, 51, 102); text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Selama dua hari (15&amp;16/11) Koran ini (Suara Merdeka) menurunkan laporan tentang aktivitas majelis taklim di tengah isu terorisme. Dimana majelis taklim diawasi karena khawatir akan adanya penyebaran paham (ide) “fundamentalisme”, yang dipahami oleh sementara orang sebagai ideology yang suka (dan mensahkan?) kekerasan atas nama &lt;i style=""&gt;jihad &lt;/i&gt;dalam Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; color: rgb(102, 51, 102); text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Tak hanya majelis taklim. Tempat-tempat ibadah pun, kini tak luput dari pantauan aparat keamanan. Seperti penuturan Kapolres Pati AKBP Endang Suryadarna melalui stafnya yang dilansir Jawa Pos Radar Kudus (17/11), itu dilakukan karena keterangan yang didapat, para teroris itu ternyata lebih suka bersembunyi di tempat-tempat ibadah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; color: rgb(102, 51, 102); text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Sungguh hal yang sangat ironis. Islam sebagai agama, yang datang dengan cita-cita luhur mengangkat harkat dan masrtabat manusia dari penindasan, kenistaan, dan menghargai perbedaan (&lt;i style=""&gt;egaliter&lt;/i&gt;) seperti tertuang dalam &lt;i style=""&gt;mitsaq al-madinah&lt;/i&gt; (piagam Madinah), namun harus terkotori oleh perbuatan biadab segelintir orang yang tidak bertanggungjawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; color: rgb(102, 51, 102); text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Sebelumnya, wakil presiden Jusuf Kalla juga mengeluarkan statemen yang sangat mengejutkan. Yaitu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;pembatasan dan pengawasan terhadap Pesantren. Lembaga pendidikan agama yang mempunyai keunikan dan kekhasan tersendiri dalah khazanah negeri ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0cm; text-indent: 1cm; color: rgb(102, 51, 102); text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;"&gt;Mastuhu (Mastuhu: 1994), dalam &lt;i&gt;Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;menulis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;, pesantren, dengan berbagai tradisi dan sistem pengajarannya, tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian (&lt;i&gt;indigenous&lt;/i&gt;) Indonesia, karena keberadaannya di bumi Nusantara sejak abad ke 13 – 17 M., dan di Jawa pada abad ke 15 – 16 M.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0cm; text-indent: 1cm; color: rgb(102, 51, 102); text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Karena keunikan dan kekhasan yang dimilikinya itu pula, sampai seorang Indonesianis &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;"&gt;Martin van Bruinessen&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;"&gt;1995) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;menyatakan, bahwa pesantren adalah salah satu tradisi agung (&lt;i&gt;great tradition&lt;/i&gt;) di Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; color: rgb(102, 51, 102); text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Namun karena ulah oknum yang melakukan serangakian terror yang mengakibatkan banyak korban, warisan leluhur (baca: pesantren) yang merupakan tradisi agung di Indonesia sebagaimana dikatakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Martin van Bruinessen, juga tak luput dari kecurigaan-kecurigaan dan pengawasan aparat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: Georgia; color: black;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; color: black;"&gt;Kekerasan Agama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; color: black;"&gt;Diakui atau tidak, kekerasan –atas nama- agama yang terjadi selama berabad-abad, merupakan kejahatan terburuk yang telah mengisi peradaban manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; color: black;"&gt;Ada sebuah paradoks di sana. Dimana agama, di dalam mengajarkan nilai-nilai luhur, tetapi kenyataannya malah menjadi “institusi” yang paling bertanggung jawab terhadap terjadinya kerusakan dan pertikaian di muka bumi. Akibatnya, wajah agama yang santun, ramah, dan suka akan kasih saying, berbalik menjadi menakutkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; color: black;"&gt;Itulah yang memunculkan keheranan salah seorang pemikir besar Iran Ali Syariati (1979). Karena dalam sejarah peradaban dunia, kekerasan dan pertikaian yang terjadi di dunia, itu selalu dilakukan oleh orang-orang yang sama-sama memiliki agama. Sehingga kesan yang muncul, pertikaian dan kekerasan yang terjadi itu pertikaian atau kekerasan agama vis a vis agama. “&lt;i style=""&gt;Religion vs religion&lt;/i&gt;,” dalam bahasanya Ali Syariati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; color: black;"&gt;Dalam konteks kekinian, serangkaian aksi teror yang dilakukan oleh oknum dari kelompok muslim, menjadikan Islam sebagai agama yang dituding “harus bertanggungjawab” atas semuanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Kita memang tidak bisa menyalahkan pandangan tersebut. Namun pandangan tersebut juga tidak benar seratus persen adanya. Apalagi untuk mengeneralisir bahwa Islam dan segenap penganutnya, itu suka melakukan teror. Sebab, penganut agama apapun di dunia ini, punya potensi yang sama besar untuk melakukan kesalahan termasuk melakukan teror. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Allah Swt. menjelaskan, bahwa manusia itu punya dua potensi sekaligus. Yaitu potensi berbuat baik dan potensi berbuat jahat. Dijelaskan dalam al-Qur’an, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (QS. As.Syams: 7-8).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Ini, diperjelas oleh Hadits Nabi Muhammad Saw., yang menegaskan, setiap manusia itu dilahirkan dengan membawa fitrah. &lt;i style=""&gt;Kullu mauludin yuuladu ‘ala al-fitrah&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Fitrah dalam hadits tersebut bermakna “potensi”. Dimana di setiap diri manusia itu punya dua potensi sekaligus. Potensi melakukan hal yang positif maupun negatif, potensi melakukan &lt;i style=""&gt;haq &lt;/i&gt;– &lt;i style=""&gt;bathil&lt;/i&gt;, baik – buruk, hitam-putih, dan lain sebagainya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Agar manusia tidak terperosok dalam salah, nista dan dosa, maka Allah Swt., membekalinya dengan akal (&lt;i style=""&gt;al-aql&lt;/i&gt;) untuk membedakan antara yang baik-buruk, haq – bathil, benar-salah, dan lain sebagainya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; color: black;"&gt;Jadi, kekerasan atas nama agama itu bukan dipicu atau diilhami oleh agama itu sendiri. Tapi bisa oleh interpretasi (pemahaman) seseorang yang salah terhadap agama, atau juga bisa karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ada oknum (bisa perseorangan, kelompok, bahkan pemerintah) yang menjadi otak di belakangnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Thomas Santoso dalam &lt;i&gt;Kekerasan Agama Tanpa Agama&lt;/i&gt;, (2002) menjelaskan, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;kekerasan atas nama agama itu bisa saja terjadi akibat tekanan struktur sosial yang meghimpit mereka dalam kehidupan sehari-hari akibat perlakuan yang tidak adil, tidak jujur, serta motivasi dan kepentingan pribadi yang bersangkutan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Akumulasi kemarahan dan frustasi di tengah kehidupan sehari-hari, di samping &lt;i&gt;emotional illiteracy&lt;/i&gt; (buta emosi) dan ketidakmampuan mengekspresikan atau me-&lt;i style=""&gt;manage &lt;/i&gt;emosi secara cerdas serta cara yang ditempuh ternyata tidak membuahkan hasil, maka mereka kemudian membelokkannya menjadi kekerasan massa (&lt;i&gt;deflected aggression),&lt;/i&gt; yang sasarannya sudah ditentukan sebelumnya (&lt;i&gt;precipitating factor).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 5pt; font-family: Georgia; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; color: black;"&gt;Rahmatan Lil’alamin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Aksi terori yang dilakukan oleh segelintir oknum “Islam militant” benar-benar telah mencoreng nama Islam. Berbagai pandangan miring dari kelompok masyarakat terutama non muslim, akibat ulah oknum yang seakan mensahkan kekerasan bahkan pembunuhan atas nama agama (jihad). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Pandangan demikian wajar saja muncul, apalagi setelah melihat serentetan aksi teror yang terjadi. Aksi kamikaze di World Trade Center (WTC) AS, peledakan bom Bali jilid I dan II, peledakan bom di Kedutaan Besar Australia Jakarta, JW. Marriot, bahkan kantor Mabes Polri pun tak luput dari aksi biadab tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Namun itu tidak bisa lantas dijadikan ukuran dan penilaian bahwa betapa jahat dan biadabnya Islam, misalnya. Karena Islam –dan agama apapun di dunia ini- tidak membenarkan adanya aksi kekerasan, apalagi sampai menghilangkan nyawa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; color: black;"&gt;Karena pada dasarnya, cinta kasih dan menghargai sesama, agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam masyarakat dan kekerasan dalam masyarakat itulah ajaran semua agama. Dimana ekspresi keagamaan itu ditujukan untuk memperbaiki tatanan dunia &lt;i&gt;(world order)&lt;/i&gt; yang bobrok menjadi baik, dan dari yang baik menjadi lebih baik lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; color: black;"&gt;“Dan aku jadikan kamu semua bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal satu sama lain.” Demikian firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; color: black;"&gt;Ayat tersebut dipertegas dengan ayat lain yang berbunyi, &lt;i&gt;Wa m&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; arsaln&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ka ill&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; rahmatan lil ‘&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lam&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;n &lt;/i&gt;(Q.s. Al-Anbiya/21: 108). “Dan tidaklah Aku utus Engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat (kasih sayang) bagi segenap alam.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; color: black;"&gt;Islam adalah agama sebagaimana agama lain yang suka akan cinta kasih. Islam adalah agama rahmat. Agama yang suka akan perdamaian. Dan serangkaian aksi kekerasan yang dilakukan oleh penganut Islam, hanyalah oknum yang tetap harus dicari tahu apa motif mereka melakukan aksi teror itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; color: black;"&gt;Akhirnya, semua elemen masyarakat dari agama apa pun, harus bahu membahu dan bekerjasama untuk memerangi aksi terorisme yang bisa saja berlanjut dari waktu ke waktu. Karena terorisme sangat ditentang oleh semua agama. Sehingga bisa dikatakan, terorisme adalah musuh agama-agama. &lt;i style=""&gt;Wallahu a’lam&lt;/i&gt;. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-114965166707233543?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/114965166707233543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=114965166707233543' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114965166707233543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114965166707233543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/06/islam-agama-rahmat-atau-teroris.html' title='Islam, (Agama) Rahmat atau Teroris'/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-114965118693512360</id><published>2006-06-06T20:30:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T20:33:06.946-07:00</updated><title type='text'>Conciousness</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="font-style: italic; color: rgb(204, 51, 204); text-align: right;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: Georgia;"&gt;Conciousness &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: right;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 23pt; font-family: Georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;Development to Counter Terrorism&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Georgia;"&gt;Oleh Rosidi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;“Today there is no longer between violence and nonviolence. It is either nonviolence or nonexsistence. I feel that we’ve got to&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;look at this total thing a new and recognize that we must live together …”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 1pt; font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: right; text-indent: -18pt; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Dr. Martin Luther King Jr. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Berbicara masalah terorisme sebenarnya sangat dilematis. Satu sisi, secara &lt;i style=""&gt;factual&lt;/i&gt;, terorisme adalah satu hal yang harus dimusuhi, diperangi dan dimusnahkan dari muka bumi. Karena aksi tersebut – kalau kita sepakat bahwa aksi teror itu sebagai tindakan yang menyebarkan ketakutan dan memakan banyak korban apapun alasannya- telah meresahkan umat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Banyak fakta yang bisa diajukan bahwa banyak sudah nyawa yang hilang akibat aksi biadab, yang, dalam pandangan sementara orang (kelompok), terkait dengan salah satu agama: Islam. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mulai dari aksi kamikaze WTC di AS pada 2001, sampai pada berbagai peledakan bom di berbagai daerah di Indonesia, yang menyisakan rasa dendam dan duka bagi keluarga yang menjadi korban. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Islam, sampai saat ini masih dicurigai sebagai agama “yang harus bertanggungjawab” terhadap serangkaian aksi teror yang dilakukan oleh penganutnya. Aksi teror, yang dilakukan karena pemahaman sempit akan mana jihad, yaitu “memusuhi” atau bahkan “membunuh” musuh yang berlainan agama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Akhirnya, akibat perbuatan segelintir orang yang sebenarnya tidak paham betul apa makna jihad sebenarnya, maka Islam, baik sebagai agama maupun &lt;i style=""&gt;ideology&lt;/i&gt;, tak ayal dijadikan sebagai “tertuduh” (meminjam bahasanya Prof. Dr. Din Syamsuddin). Di Indonesia, pengawasan (bahkan pembatasan) terhadap salah satu lembaga pendidikan Islam tradisional: Pesantren, bahkan telah dilakukan. Ironis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Padahal menuding Islam sebagai tertuduh adalah tindakan yang terburu-buru. Karena tindakan tersebut hanya dilakukan oleh sedikit orang yang sebenarnya belum mengerti betul tentang Islam secara &lt;i style=""&gt;kaffah &lt;/i&gt;(sempurna). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Selain itu, harus dipahami pula, bahwa &lt;i style=""&gt;term &lt;/i&gt;(istilah) terorisme sendiri sebenarnya masih simpang siur dan belum final secara &lt;i style=""&gt;definitive&lt;/i&gt;. Seperti dikatakan Pamala L. Griset &amp; Sue Mahan (2003) dalam “&lt;i style=""&gt;Terrorism in Perspective&lt;/i&gt;”, istilah terorisme selalu dikonotasikan &lt;i style=""&gt;negative&lt;/i&gt;. Yaitu tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang/kelompok baik politik maupun agama. Padahal definisinya belum -bahkan mungkin tidak akan pernah- selesai (final), karena terkait dengan banyak aktifitas perlawanan terhadap kelompok yang dianggap musuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Tesis yang dikemukakan ini Pamala L. Griset &amp; Sue Mahan ini memperjelas, bahwa terorisme sebenarnya berpotensi besar dilakukan oleh siapa saja dan dari kelompok manapun. Entah itu Islam, Nasrani, Yahudi, dan lain sebagainya. Dimana bisa saja, aksi teror itu dilakukan oleh seseorang untuk melawan sebuah kondisi yang menindas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Kaum Muda Melawan Terorisme &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Terlepas dari apapun alasan dan siapa yang melakukannya, aksi terorisme yang terjadi selama ini, telah menimbulkan banyak korban dan menyebarkan ketakutan bagi banyak orang. Karena itu, melawan terorisme adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Siapa yang harus melakukan? Semua elemen masyarakat dan pemerintah, punya kewajiban yang sama terhadap tugas yang satu ini. Karena perjuangan melawan terorisme adalah demi satu tujuan, yaitu terciptanya kedamaian dan rasa aman bagi semua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Dalam hal melawan terorisme, kaum muda sebagai calon pengganti dan penerus ke-&lt;i style=""&gt;khalifah&lt;/i&gt;-an di muka bumi, harus mengambil peran yang besar dan signifikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Membangun aliansi pemuda untuk melawan terorisme, adalah hal yang harus segera dilakukan. Untuk itu, tidak ada salahnya jika pemuda mengorganisasikan diri untuk kemudian mengadakan kongres pemuda, membahas berbagai kemungkinan dan strategi melawan aksi terorisme yang ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Perjuangan pemuda melawan terorisme, tidak hanya bisa dilakukan dalam sebuah organisasi. &lt;i style=""&gt;Counter &lt;/i&gt;(perlawanan) lewat tulisan lewat berbagai media massa juga bisa menjadi alternative lain. Yaitu untuk memberikan penjelasan bahwa perbuatan yang dilakukan para terorisme adalah perbuatan keji yang tidak beradab dan tidak berperikemanusiaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Sementara itu, di tingkatan masyarakat, pemuda bisa melakukannya dengan membangkitkan kesadaran (&lt;i style=""&gt;conciousnesss raising&lt;/i&gt;), bahwa terorisme yang telah mengakibatkan banyak korban itu, adalah perbuatan biadab yang harus dilawan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Untuk itu, tidak ada salahnya kita merenungkan pesan Martin Luther King Jr., sekarang ini kita harus berpikir dan melihat sebuah permasalahan secara komprehensif (total). Dan bahwa hidup itu untuk saling mengenal dan berdampingan, hidup bersama. “… &lt;i style=""&gt;I feel that we’ve got to look at this total thing a new and recognize that we must live together &lt;/i&gt;…”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-114965118693512360?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/114965118693512360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=114965118693512360' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114965118693512360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114965118693512360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/06/conciousness.html' title='Conciousness'/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-114965095681582741</id><published>2006-06-06T20:22:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T20:29:16.826-07:00</updated><title type='text'>Kudus Kota Pelajar bukan Impian</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 23pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Kudus Kota Pelajar bukan Impian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size: 5pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Kudus Kota Pelajar?” Sepintas, rasanya ini adalah sebuah cita-cita yang –bisa dibilang- sangat berlebihan dan &lt;i&gt;ngoyoworo&lt;/i&gt;. Karena untuk mewujudkannya, membutuhkan kerja ekstra keras dan tanpa kenal lelah. Baik &lt;i&gt;stake holders &lt;/i&gt;(Pemerintah Daerah) dan masyarakat, harus bersatu padu dan saling bahu-membahu agar “impian” tersebut bisa terwujud.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Namun begitu, cita-cita tersebut bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Selama ini, kota &lt;i&gt;gudeg &lt;/i&gt;Yogyakarta lah yang menyandang predikat sebagai kota pelajar. Tapi bukan merupakan dosa saya kira, apabila Kudus berkeinginan menjadi kota pelajar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Justru, cita-cita tersebut adalah dalam kerangka &lt;i&gt;fastabiq al-khairat &lt;/i&gt;(berlomba-lomba dalam hal kebaikan), dan sesuai dengan amanat &lt;i&gt;founding fathers &lt;/i&gt;pendiri bangsa dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Mewujudkan kudus menjadi kota pelajar sangatlah berat dan bisa dikatakan sebagai “mimpi”, memang. Namun begitu, itu bukanlah hal yang tidak mungkin diwujudkan. Karena kultur, &lt;i&gt;millieu &lt;/i&gt;dan sumber daya manusia (SDM), dan banyaknya putera daerah yang menjadi cendekiawan, bisa menjadi modal untuk itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Kultur kudus dan pola pikir masyarakatnya bisa dibilang sudah maju dibandingkan dengan kota-kota tetangganya seperti Demak, Pati dan Jepara. Pembangunan struktur dan infrastrukturnya juga sudah cukup memadai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Sarana pra sarana dan fasilitas yang menunjang perkembangan pendidikan seperti Perpustakaan, jaringan Internet atau Teknologi Informasi (IT), cukup menggembirakan, meski tetap membutuhkan perhatian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Millieu (lingkungan)-nya juga sangat prospektif untuk pengembangan pendidikan, terutama untuk kawasan timur Pantai Utara (Pantura). Banyak sekolah unggulan, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan profesi, berdiri. Universitas Muria Kudus (UMK), Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), Akademi Keperawatan (Akper) Krida Husada, Akademi Kebidanan (Akbid), Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Cendekia Utama, IKIN, EMC &lt;i&gt;Course&lt;/i&gt;, dan banyak lagi lembaga pendidikan lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Selain itu, di kudus juga banyak berdiri pesantren-pesantren. Lembaga pendidikan keagamaan yang menjadi harapan Pemda (dan Bangsa) dalam turut serta membangun karakter masyarakatnya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Dalam hal SDM, kudus bisa dibilang cukup bagus. Ini, ditambah dengan banyaknya putera daerah yang menjadi cendekiawan sehingga bisa dimintai sumbang-saran, tenaga dan pikirannya untuk mewujudkan kudus menjadi kota pelajar, meski mereka tersebar di berbagai kota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Sedikit menyebut nama putera daerah yang cukup diperhitungkan dalam dunia pendidikan diantaranya Prof. Dr. Abdul Djamil, MA (Rektor IAIN Walisongo Semarang), Prof. Dr. Abdurrahman Mas’oed, MA (Mantan Direktur Pascasarjana IAIN Walisongo, kini Rektor Universitas Sains Qur’an Wonosobo), Drs. Noor Ahmad, MA (Rektor Universitas Wahid Hasyim Semarang), Prof. Dr. Ahmad Rofiq (Sekretaris MUI Jateng, Dosen Pasca Sarjana IAIN Walisongo), Prof. Dr. Chatibul Umam (Guru Besar UIN Jakarta), Prof. Muslim A. Kadir (Ketua STAIN Kudus) Drs. Abdul Mu’ti, M.Ed (Dosen, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah), Prof. Dr.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Satoto (Ketua Dewan Riset Daerah Jateng), dan masih banyak lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Dengan berbagai kemungkinan dan SDM seperti disebut di atas, maka menjadikan kudus menjadi kota pelajar, bukanlah sesuatu yang sulit. Tinggal bagaimana pemerintah mengelola semua kemungkinan dan kekuatas di atas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Kebijakan Pemda menerapkan jam belajar bagi anak jam 18.00 – 21.00, juga bisa menjadi salah satu penyokong terwujudnya cita-cita luhur tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-114965095681582741?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/114965095681582741/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=114965095681582741' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114965095681582741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114965095681582741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/06/kudus-kota-pelajar-bukan-impian.html' title='Kudus Kota Pelajar bukan Impian'/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-114965043759304089</id><published>2006-06-06T20:19:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T20:20:37.603-07:00</updated><title type='text'>Mencermati Pencemaran Sungai Semarang</title><content type='html'>&lt;h3 style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 0);" class="post-title"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;      Mencermati Pencemaran Sungai Semarang        &lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;                 &lt;div style="color: rgb(51, 255, 51);" class="post-body"&gt;            &lt;div&gt;       Pola hidup bersih dan sehat hanya tercipta jika di dukung dengan lingkungan yang bersih dan sehat pula. Lingkungan itu meliputi perumahan, jalan, kebun, dan sungai atau aliran air.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan kebersihan lingkungan, Semarang bisa dibilang buruk. Kenapa? Padahal program “resik-resik kutho” yang digalakkan pemerintah kota, telah mengantarkan ibukota Provinsi ini memperoleh penghargaan Adipura Kencana.&lt;br /&gt;Ya. Program resik-resik kutho memang telah mengantarkan semarang meraih penghargaan. Namun program itu belum mampu menyentuh semua lapisan masyarakat dan menyadarkannya akan pentingnya hidup bersih dan sehat. Resik-resik kutho hanya ada di wilayah yang di blow up oleh media. Bagaimana dengan yang lain?&lt;br /&gt;Rob yang seringkali terjadi setiap kali turun hujan, bukanlah suatu kebetulan dan gejala alam yang harus diterima begitu saja. Karena itu terjadi akibat pendangkalan sungai-sungai dan tersumbatnya saluran air yang ada.&lt;br /&gt;Pendangkalan sungai yang ada, bisa dilihat misalnya di sungai Banjir Kanal Timur dan sungai Barito. Di kedua sungai ini bahkan tidak hanya terjadi pendangkalan. Penyempitan dan bau tak sedap (busuk) akibat sampah yang dibuang sembarangan, juga menjadi pemandangan yang sangat meresahkan.&lt;br /&gt;Tidak hanya di kedua sungai ini. Kebanyakan sungai di semarang, kini sudah tercemar oleh limbah dan dijadikan pembuangan sampah oleh orang-orang yang tidak mau tahu akan pentingnya lingkungan yang bersih.&lt;br /&gt;Kondisi tersebut, jika terus dibiarkan, akan berakibat buruk bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Selain bisa menjadi penyebab rob, juga bisa menyebabkan percepatan penyebaran penyakit.&lt;br /&gt;Penyebaran penyakit itu terjadi karena sungai-sungai yang kotor, berpotensi besar dijadikan sarang nyamuk. Selain itu, bau busuk yang dikeluarkan, juga bisa berakibat buruk bagi pernafasan.&lt;br /&gt;Karena itu, pemerintah kota semarang harus segera mengambil tindakan. Sosialisasi terhadap pentingnya hidup bersih harus digalakkan. Pembersihan sungai-sungai dan pelarangan pembuangan sampah di sungai, harus segera dilaksanakan. Syukur nanti ada SK Walikota yang khusus membahas masalah kebersihan lingkungan berikut sanksi yang bakal diterima jika melanggarnya.&lt;br /&gt;Dengan begitu, maka pencemaran lingkungan terutama pencemaran sungai, sedikit demi sedikit akan terkikis dan hilang. Akhirnya hidup bersih dan sehat tidak akan lagi sekadar wacana di ruang-ruang diskusi dan seminar tanpa kenyataan. Tapi juga dapat diwujudnyatakan. (Rosidi)       &lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;            &lt;p style="color: rgb(51, 255, 51);" class="post-footer"&gt;      &lt;em&gt;posted by rosidi @ &lt;a href="http://rosidi.blogspot.com/2006/06/mencermati-pencemaran-sungai-semarang.html" title="permanent link"&gt;1:43 AM&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;                  &lt;a class="comment-link" href="comment.g?blogID=29334330&amp;postID=114958369202163731" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29334330&amp;amp;postID=114958369202163731;"&gt;0 comments&lt;/a&gt;         &lt;span class="item-control admin-1497546689 pid-2004188227"&gt;&lt;a style="border: medium none ;" href="post-edit.g?blogID=29334330&amp;postID=114958369202163731&amp;amp;quickEdit=true" title="Edit Post"&gt;&lt;span class="quick-edit-icon"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;          &lt;!-- End .post --&gt;&lt;!-- Begin #comments --&gt;&lt;!-- End #comments --&gt;&lt;!-- Begin .post --&gt;                                  &lt;a style="color: rgb(51, 255, 51);" name="114958335333344700"&gt;&lt;/a&gt;              &lt;h3 style="color: rgb(51, 255, 51);" class="post-title"&gt;      Menyelamatkan Kerajinan Bambu Jepang        &lt;/h3&gt;                                    &lt;div style="color: rgb(51, 255, 51);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt; Jepang , salah satu desa di kabupaten Kudus, barangkali kurang dikenal masyarakat luas, kecuali masjid “Al-Makmur” yang merupakan salah satu peninggalan Wali yang dijadikan sebagai salah satu cagar budaya di kota kretek ini.&lt;br /&gt;Selain itu, adalah tradisi mengambil “Banyu Salamun” di masjid tersebut pada malam rabu pungkasan din bulan Shafar (Jawa: Sapar). Konon kabarnya, air dari sumur masjid tersebut bisa dijadikan untuk mengobati berbagai penyakit. Maka tidak heran jika pada saat malam rabu pungkasan, ribuan orang dari desa Jepang dan desa-desa tetangga berduyun-duyun mengambil air di masjid tersebut.&lt;br /&gt;Namun jangan salah. Jepang tidak hanya punya masjid wali dan tradisi rabu pungkasan. Disana ada pula kerajinan anyaman bambu yang tidak dimiliki oleh desa-desa lain di kota kudus.&lt;br /&gt;Bambu yang bagi sebagian besar orang tidak mempunyai peran yang begitu berharga, di tangan masyarakat Jepang , ia menjadi alat untuk berdikari dan menambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.&lt;br /&gt;Kepang, Kere, Besek, Ekrak, Dunak dan Kalo, adalah sedikit kerajinan masyarakat Jepang yang masih dibuat sampai kini. Dari tangan-tangan terampil masyarakatnya, sebuah anyaman bambu yang sangat eksotik dan bernilai seni tinggi tercipta.&lt;br /&gt;  Perlu perhatian&lt;br /&gt;Bambu, adalah materi (hyle) sebagaimana benda-benda lain yang tanpa guna apabila tidak ada tangan-tangan trampil yang memberinya bentuk (morphe).&lt;br /&gt;Meminjam tesis Aristoteles (384-322 SM), bambu merupakan materi dengan kemungkinan terbuka, menerima untuk ditentukan oleh suatu bentuk. Lewat bentuk itulah nanti materi ditentukan. Bentuklah yang membedakan pohon, gelondongan kayu, bambu, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Nah, bambu di desa Jepang , telah menjadi suatu bentuk yang sangat eksotik dengan nilai seni yang sangat menawan. Di desa ini, bambu yang biasanya sekadar digunakan untuk jembatan darurat seperti pada waktu terjadi Banjir di Dawe beberapa waktu lalu, atau sekadar sebagai penyangga (soko) rumah yang terbuat dari gedeg (kepang), di desa itu bisa menjadi berbagai benda dengan beragam bantuk.&lt;br /&gt;Anyaman bambu Jepang adalah kerajinan dan warisan (seni) tradisional yang sudah seharusnya mendapatkan perhatian agar tidak punah di kemudian hari.&lt;br /&gt;Kini, perhatian terhadap warisan leluhur itu sudah harus dilakukan. Karena semakin sedikitnya orang yang bisa membuat kerajinan tangan dari bambu tersebut.&lt;br /&gt;Menyelamatkan kerajinan anyaman bambu di desa Jepang , mutlak dilakukan. Ini j ika pemerintah tidak ingin kehilangan warisan leluhur yang sangat eksotik dan bernilai seni tinggi itu. Hingga kerajinan itu tidak akan berpindah hak ciptanya ke daerah atau bangsa lain, sebagaimana tempe yang hak ciptanya dimiliki oleh bangsa Jepang . (Rosidi)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-114965043759304089?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/114965043759304089/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=114965043759304089' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114965043759304089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114965043759304089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/06/mencermati-pencemaran-sungai-semarang_06.html' title='Mencermati Pencemaran Sungai Semarang'/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-114964994920230613</id><published>2006-06-06T20:09:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T20:12:29.203-07:00</updated><title type='text'>Menyelamatkan Kerajinan Bambu Jepang</title><content type='html'>&lt;h3 style="font-family: arial; color: rgb(51, 51, 255);" class="post-title"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;      Menyelamatkan Kerajinan Bambu Jepang&lt;/span&gt;        &lt;/h3&gt;                                    &lt;div style="font-family: arial; color: rgb(255, 102, 0);" align="justify"&gt;Jepang , salah satu desa di kabupaten Kudus, barangkali kurang dikenal masyarakat luas, kecuali masjid “Al-Makmur” yang merupakan salah satu peninggalan Wali yang dijadikan sebagai salah satu cagar budaya di kota kretek ini.&lt;br /&gt; Selain itu, adalah tradisi mengambil “Banyu Salamun” di masjid tersebut pada malam rabu pungkasan din bulan Shafar (Jawa: Sapar). Konon kabarnya, air dari sumur masjid tersebut bisa dijadikan untuk mengobati berbagai penyakit. Maka tidak heran jika pada saat malam rabu pungkasan, ribuan orang dari desa Jepang dan desa-desa tetangga berduyun-duyun mengambil air di masjid tersebut.&lt;br /&gt; Namun jangan salah. Jepang tidak hanya punya masjid wali dan tradisi rabu pungkasan. Disana ada pula kerajinan anyaman bambu yang tidak dimiliki oleh desa-desa lain di kota kudus.&lt;br /&gt; Bambu yang bagi sebagian besar orang tidak mempunyai peran yang begitu berharga, di tangan masyarakat Jepang , ia menjadi alat untuk berdikari dan menambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.&lt;br /&gt; Kepang, Kere, Besek, Ekrak, Dunak dan Kalo, adalah sedikit kerajinan masyarakat Jepang yang masih dibuat sampai kini. Dari tangan-tangan terampil masyarakatnya, sebuah anyaman bambu yang sangat eksotik dan bernilai seni tinggi tercipta.&lt;br /&gt;   Perlu perhatian&lt;br /&gt; Bambu, adalah materi (hyle) sebagaimana benda-benda lain yang tanpa guna apabila tidak ada tangan-tangan trampil yang memberinya bentuk (morphe).&lt;br /&gt; Meminjam tesis Aristoteles (384-322 SM), bambu merupakan materi dengan kemungkinan terbuka, menerima untuk ditentukan oleh suatu bentuk. Lewat bentuk itulah nanti materi ditentukan. Bentuklah yang membedakan pohon, gelondongan kayu, bambu, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt; Nah, bambu di desa Jepang , telah menjadi suatu bentuk yang sangat eksotik dengan nilai seni yang sangat menawan. Di desa ini, bambu yang biasanya sekadar digunakan untuk jembatan darurat seperti pada waktu terjadi Banjir di Dawe beberapa waktu lalu, atau sekadar sebagai penyangga (soko) rumah yang terbuat dari gedeg (kepang), di desa itu bisa menjadi berbagai benda dengan beragam bantuk.&lt;br /&gt; Anyaman bambu Jepang adalah kerajinan dan warisan (seni) tradisional yang sudah seharusnya mendapatkan perhatian agar tidak punah di kemudian hari.&lt;br /&gt; Kini, perhatian terhadap warisan leluhur itu sudah harus dilakukan. Karena semakin sedikitnya orang yang bisa membuat kerajinan tangan dari bambu tersebut.&lt;br /&gt; Menyelamatkan kerajinan anyaman bambu di desa Jepang , mutlak dilakukan. Ini j ika pemerintah tidak ingin kehilangan warisan leluhur yang sangat eksotik dan bernilai seni tinggi itu. Hingga kerajinan itu tidak akan berpindah hak ciptanya ke daerah atau bangsa lain, sebagaimana tempe yang hak ciptanya dimiliki oleh bangsa Jepang . (Rosidi)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-114964994920230613?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/114964994920230613/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=114964994920230613' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114964994920230613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114964994920230613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/06/menyelamatkan-kerajinan-bambu-jepang.html' title='Menyelamatkan Kerajinan Bambu Jepang'/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29377118.post-114964957216540380</id><published>2006-06-06T19:57:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T20:06:12.166-07:00</updated><title type='text'>Rosidi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5224/3127/1600/foto_eros_.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5224/3127/400/foto_eros_.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Gaul Berakhlak Rasul&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29377118-114964957216540380?l=rosidikalem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidikalem.blogspot.com/feeds/114964957216540380/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29377118&amp;postID=114964957216540380' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114964957216540380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29377118/posts/default/114964957216540380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidikalem.blogspot.com/2006/06/rosidi.html' title='Rosidi'/><author><name>sayang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12471580530001383242</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
